Social Research & Policy Analyst
Akrab disapa Abil, Salsabila Khairunisa mengawal isu pelestarian lingkungan yang mengawali perannya sebagai Campaigner sejak 2023. Setelahnya, peran Abil berganti menjadi Social Research & Policy Analyst di Pantau Gambut.
Lulusan Sekolah Tinggi Hukum Indonesia (STHI) Jentera ini memiliki impian untuk mendirikan toko roti dan kue berbasis bahan-bahan lokal yang dilengkapi dengan halaman luas sebagai ruang berkumpul pelanggan setianya.
Oleh: Abil Salsabila dan Yoga Aprillianno - Selasa, 29 Oktober 2024
Indonesia yang memiliki lahan pertanian luas, sumber daya alam beraneka ragam juga berlimpah, jelas menjadikannya primadona. Koes Plus pun menyebutnya tanah surga karena bisa menumbuhkan tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Tapi, skeptis dengan jargon Indonesia sebagai negara agraris ternyata tidak pernah salah.
Oleh: Abil Salsabila - Jumat, 11 September 2026
Regulasi di Indonesia tak ubahnya ‘rimba’ yang mampu menyesatkan siapapun di dalamnya. Terlebih ketika membahas regulasi yang mengatur rimba itu sendiri. Sejarah kolonial panjang mewariskan banyak sekali jejak norma yang logika dasarnya masih terus berlaku hingga hari ini, tak terkecuali dalam konteks lanskap ekosistem gambut.
Oleh: Abil Salsabila, Wahyu Perdana, Yoga Aprillianno, Iola Abas - Senin, 29 Juli 2024
Pantau Gambut membuat analisis visi-misi-program calon presiden dan wakilnya untuk menunjukkan rekam jejak seluruh partai pendukungnya dalam kontestasi pemilihan presiden tahun 2024.
Oleh: Juma Maulana, Abil Salsabila, Wahyu Perdana, Agiel Prakoso, Yoga Aprillianno, Iola Abas - Selasa, 30 Juni 2026
Inkonsistensi regulasi terkait perlindungan ekosistem gambut membuat masyarakat dan ekosistem di sekitarnya menjadi korban.
Oleh: Almi Ramadhi, Agiel Prakoso, Juma Maulana, Wahyu Perdana, Abil Salsabila, Johan Wahyu Inzar Robiya, Yoga Aprillianno, Iola Abas - Selasa, 24 September 2024
Melalui peluncuran studi "Gelisah di Lahan Basah: Korporasi, Pemerintah, dan Semua Komitmen Kosong Restorasi Gambutnya", Pantau Gambut memaparkan banyaknya infrastruktur restorasi gambut yang tidak sesuai standar.
Oleh: Juma Maulana, Agiel Prakoso, Wahyu Perdana, Abil Salsabila, Fiqri Abdi, Yoga Aprillianno, Iola Abas - Rabu, 02 September 2026
Selain karhutla yang selama ini menjadi fokus perhatian, banjir juga merupakan ancaman serius yang diakibatkan oleh kerusakan ekosistem gambut. Melalui peluncuran studi Tenggelamnya Lahan Basah, Pantau Gambut memaparkan ancaman banjir di Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) di Indonesia yang dibagi ke dalam tiga regional: Sumatera, Kalimantan, dan Papua.
Oleh: Juma Maulana, Abil Salsabila, Agiel Prakoso, Johan Wahyu Robiya, Wahyu Perdana, Almi Ramadhi, Yoga Aprillianno, Iola Abas - Kamis, 31 Oktober 2024
Siapa sangka jika sebagian lahan Food Estate Kalimantan Tengah kini hanya menjadi semak belukar dan malah bertumpang tindih dengan area perkebunan sawit milik swasta?
Oleh: Abil Salsabila, Juma Maulana, Muhammad Syafiq, Ryan Kusumo, Yoga Aprillianno, Iola Abas - Jumat, 11 September 2026
97% lahan gambut yang terbakar tidak pernah kembali menjadi hutan. Fakta ini menjadi cermin paling jujur dari satu dekade program restorasi gambut Indonesia yang mengklaim telah memulihkan jutaan hektare lahan, namun gagal mengubah nasib ekosistem yang paling kritis di negeri ini.