Bab 2.1 Lahan gambut menjaga perubahan iklim

Lahan gambut di Indonesia menyimpan sekitar 57 gigaton karbon atau 20 kali lipat karbon tanah mineral biasa. Cadangan karbon yang tersimpan di dalam tanah gambut akan terlepas ke udara jika lahan gambut dikeringkan atau dialihfungsikan. Padahal, gambut menyimpan sekitar 30% karbon dunia.

57 gigaton karbon tersimpan di lahan gambut Indonesia.

Lahan gambut menyumbang hanya 3% dari luas daratan di seluruh dunia, namun kemampuannya dalam menyerap karbon sangat besar. Lahan gambut menyimpan 550 gigaton karbon atau setara dengan 30% karbon yang tersimpan di tanah di dunia.

Di Indonesia, lahan gambut menyimpan 57 gigaton atau 20 kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan hutan hujan tropis biasa atau tanah yang bermineral. 

Gambut menyimpan cadangan karbon yang besar sehingga ketika lahan gambut dikeringkan atau mengalami alih fungsi, simpanan karbon di dalam gambut terlepas ke udara. Analisis WRI menunjukkan bahwa mengeringkan satu hektar lahan gambut di wilayah tropis akan mengeluarkan rata-rata 55 metrik ton CO2 setiap tahun; setara dengan membakar lebih dari 6.000 galon bensin.

Dalam keadaan gambut yang kering, gambut menjadi mudah terbakar. Ketika gambut sudah terbakar, api dapat menyebar hingga kedalaman empat meter karena lahan gambut tidak berisi tanah padat, melainkan ranting, rumput, dan sisa-sisa pohon. Walaupun api di permukaan sudah padam, bukan berarti api di lapisan dalam juga padam. Api yang mengendap di lapisan tanah bisa bertahan berbulan-bulan, bahkan menjalar ke tempat lain. Akibatnya, kebakaran di lahan gambut dapat menjadi bencana besar. 

Contohnya, pada tahun 1967, Indonesia mengalami kabut asap pertama di Palembang dan sekitar tahun 1970-an, kabut asap melanda Kalimantan Selatan. Pasca pelepasan lahan gambut untuk 1 juta hektar lahan pertanian di Kalimantan Tengah tahun 1996, kebakaran hutan hebat terjadi pada tahun 1997 sehingga melepaskan karbon hingga 2,57 gigaton atau setara dengan karbon dioksida selama setahun dari 2.488 pembangkit listrik tenaga batu bara.

Kebakaran tidak hanya mengeluarkan karbon dioksida, tapi juga metana, jenis gas rumah kaca yang 21 lebih berbahaya daripada karbon dioksida. Kebakaran gambut dapat mengeluarkan metana hingga 10 kali lipat lebih banyak daripada kebakaran di jenis lahan lain. Maka, dampak dari kebakaran hutan terhadap pemanasan global dapat mencapai 200 kali lipat lebih banyak daripada kebakaran di jenis lahan lain.

Puncak dari rangkaian kebakaran hutan dan lahan di Indonesia terjadi pada tahun 2015. Total lahan yang terbakar setara dengan 32 kali luas Jakarta dengan 53% dari total lahan tersebut adalah gambut. Kebakaran tersebut melepaskan emisi gas rumah kaca sebesar 1.636 juta ton CO2 atau lebih dari total emisi harian gas rumah kaca Amerika Serikat dan menimbulkan kerugian negara hingga 220 triliun rupiah.