Bab 3.2 Pengeringan lahan gambut

Alam dan manusia menjadi faktor penentu kekeringan di lahan gambut. Perubahan iklim yang berakibat pada musim kemarau dapat membuat gambut menjadi kering sehingga gambut seringkali dijadikan sebagai lahan industri pertanian dan perkebunan.

Lahan gambut sering sengaja dikeringkan untuk dijadikan perkebunan. © CIFOR

Kekeringan di lahan gambut dapat disebabkan oleh faktor alam dan manusia. Perubahan iklim telah menyebabkan musim kemarau yang lebih panjang sehingga air di ekosistem gambut mudah surut dan lama-kelamaan menjadi kering.

Selain itu, pengeringan lahan gambut sering dilakukan secara sengaja untuk mengubah gambut menjadi lahan industri pertanian dan perkebunan.

Dalam skala kecil, lahan gambut yang kering dapat kembali basah dengan bantuan hujan atau sumber air yang lain. Namun, ketika pengeringan dilakukan secara masif, lahan gambut yang kering sengaja dicegah untuk basah kembali agar bisa dikonversi menjadi perkebunan.

Pengeringan lahan gambut tersebut membuat mikroba di dalam tanah menggerogoti materi organik dan melepaskan CO2. Seiring dengan materi organik yang membusuk, gambut pun ikut menyusut. Demi kepentingan pertanian dan perkebunan, lahan gambut dikeringkan secara terus menerus untuk mencegah air kembali membanjiri gambut. Siklus surutnya dan pengeringan gambut yang terus berlangsung menjadi sumber emisi CO2 yang tidak akan berhenti.  

Dampak negatif keringnya lahan gambut tidak berhenti sampai di situ saja. Ketika lahan gambut berada dalam keadaan kering, tanaman dan semak belukar di atasnya, dan lahan gambut itu sendiri, akan lebih mudah terbakar (baik karena kemarau panjang atau sengaja dibakar untuk membuka lahan), dan mengeluarkan banyak CO2 yang tersimpan dalam gambut sehingga mempercepat peningkatan suhu bumi yang berakibat pada perubahan iklim.