Bab 5.2 Langkah-langkah restorasi gambut

Pemulihan gambut memerlukan langkah-langkah yang tepat untuk sampai pada kondisi lahan gambut yang baik. Langkah-langkah tersebut di antaranya adalah pemetaan, penentuan jenis restorasi, pelaku restorasi, pelaksanaan, dan pendekatan khusus untuk meningkatkan fungsi gambut bagi masyarakat setempat.

Ada 5 langkah untuk merestorasi gambut. © CIFOR

Pemulihan lahan gambut tentu tidak dapat berjalan begitu saja. Diperlukan langkah-langkah yang tepat untuk sampai pada kondisi lahan gambut yang baik, mulai dari wilayah mana saja yang akan direstorasi, siapa yang akan melakukan restorasi, hingga tahap pencapaian tujuan dari restorasi itu sendiri. Berikut ini adalah beberapa langkah yang perlu dilakukan dalam restorasi gambut:

  1. Memetakan gambut. 
    Pemetaan gambut perlu dilakukan untuk menentukan lokasi gambut terdegradasi dan mengetahui tipe serta kedalaman lahan gambut yang terdegradasi. Pemetaan merupakan langkah awal yang krusial karena tipe gambut yang berbeda memerlukan jenis restorasi yang berbeda pula, seperti penentuan letak pembuatan sekat kanal untuk mengatur kadar air memiliki. Selain itu, metodologi yang seragam, akurat, dan murah saat mengukur kedalaman gambut juga penting untuk menentukan upaya pemulihan yang tepat. Untuk memastikan akurasi, pemetaan ini perlu dilengkapi dengan verifikasi langsung di lahan gambut.
     
  2. Menentukan jenis restorasi, pelaku restorasi, dan rentang waktu pelaksanaan restorasi. 
    Setelah melakukan pemetaan gambut, pelaku restorasi dapat menentukan jenis restorasi yang sesuai dengan kondisi gambut. Ada gambut yang perlu melewati siklus pembasahan terlebih dahulu, dan ada pula yang dapat langsung ditanam ulang (revegetasi). Setelah menentukan jenis restorasi, baru dapat ditentukan waktu pelaksanaanya dan pemangku kepentingan mana saja yang terlibat di dalamnya.
     
  3. Membasahi gambut (rewetting)
    Pembasahan gambut (rewetting) diperlukan untuk mengembalikan kelembapannya. Penataan air pada tahap ini dapat dilakukan dengan membangun sekat kanal (canal blocking), penimbunan saluran (back filling), sumur bor, dan/atau penahan air yang berfungsi menyimpan air di sungai atau kanal. Target pembasahan lahan gambut yang layak bukanlah menaikkan muka air setinggi mungkin, melainkan menaikkan muka air tanah sedemikian rupa sehingga dapat meningkatkan kelembapan gambut (terutama di musim kemarau) agar tidak mudah teroksidasi dan/atau terbakar.
     
  4. Menanam di lahan gambut (revegetasi)
    Ketika sudah kembali lembap, lahan gambut dapat kembali ditanami (revegetasi) dengan tanaman yang tidak mengganggu siklus air dalam ekosistem gambut. Proses vegetasi akan menjaga keberlangsungan ekosistem gambut dan juga memperkokoh sekat kanal, serta melindungi lahan gambut agar tidak terkikis aliran air kanal. Beberapa jenis tanaman asli ekosistem gambut adalah jelutung, ramin, pulau rawa, gaharu, dan meranti. Selain itu, beberapa tanaman seperti kopi, nanas, dan kelapa juga merupakan tanaman yang ramah gambut dan mempunyai nilai ekonomi bagi masyarakat lokal.
     
  5. Memberdayakan ekonomi masyarakat lokal (revitalisasi)
    Restorasi lahan gambut tidak hanya berhenti pada pemulihan ekologi dan revegetasi, tetapi juga harus memikirkan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal (revitalisasi). Jika masyarakat setempat tidak mempunyai alternatif penghidupan, mereka akan menggunakan cara mudah untuk mengeringkan lahan gambut dan menanam tumbuhan yang kaya akan nilai ekonomi, tetapi tidak ramah dengan gambut. Pelaku restorasi harus senantiasa berdiskusi dengan warga untuk mencari cara dalam meningkatkan taraf kehidupan melalui pengolahan lahan gambut, seperti penanaman sagu, karet, kopi, dan kelapa atau mennggalakkan perikanan dan pariwisata alam.Dengan menjaga lahan gambut, maka keseimbangan ekosistem akan terjaga sehingga masyarakat dapat tetap hidup berdampingan dan memperoleh penghidupan dari beternak maupun bertani.