Sempat Ditinggalkan, Kopi "Laut" Kembali Dilirik

Malinda, dari Pantau Gambut
6 April 2020 | Sumatra Selatan

Kopi laut jenis liberika yang dulu ditinggalkan warga Banyuasin kini kembali terkenal. Pemerintah dan masyarakat Banyuasin kembali melirik kopi tersebut sebagai komoditas untuk memperbaiki fungsi gambut di Sumatra Selatan.

Kopi yang ditanam di lahan gambut ©Malinda

Rasanya yang sedikit asam, namun terdapat bau kacang, sayuran dan madu membuat kopi jenis ini sedikit berbeda dari jenis kopi lainnya. Kopi yang juga disebut kopi laut ini sudah lama dikenal masyarakat di Desa Air Gading, Muara Padang Banyuasin, Sumatera Selatan. Meski dinamai kopi laut, kopi ini sebenarnya ditanam di kawasan rawa gambut atau dikenal masyarakat dengan sebutan rawang. Masyarakat asli menyebut kopi laut karena area penanamannya yang berada di lahan gambut dataran rendah .

Semakin ditanam di areal gambut yang dalam, aroma kopi ini dirasa semakin terasa. Hal ini yang menyebabkan Sutarman, petani kopi di desa Air Gading, bertahan membudidayakan kopi laut  sebagai mata pencahariannya selama ini.

Saat ditemui di kawasan kebun kopi miliknya, petani yang mengikuti program transmigrasi dari Pulau Jawa ini menceritakan jika kopi laut sempat ditanam seluas 1.000 hektar  pada tahun 1980an saat pengenalan komoditas yang merupakan salah satu program transmigrasi

“Kopi-kopi yang ditanam di areal gambut ini sebenarnya sudah tua, sejak tahun 1982. Waktu itu, pemerintah alokasikan tanaman kopi, palawija, dan jagung sebagai komoditas yang ditanam di areal kebun transmigrasi,” ujarnya.

Jumlah produksi kopi ini meningkat pesat dari awal penanamannya pada tahun 1982. Untuk satu areal lahan kopi bisa menghasilkan maksimal sekitar 5 ton/ ha/ tahun sehingga mampu memenuhi kebutuhan masyarakat kala itu.

“Sayangnya, setelah lima tahun tanam, harga kopi ini jatuh. Sangat rendah dan masyarakat mengaku jika penghasilan kopi sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup. Lambat laun kopi mulai ditinggalkan petani,” ungkapnya.

 

Para petani mengalihfungsikan lahan mereka ke tanaman yang sedang berharga tinggi kala itu, yakni sawit dan sedikit tanaman karet. Akhirnya, jumlah petani yang mengusahakan kopi gambut semakin sedikit.

 

Saat ini, jumlah petani kopi laut bisa dihitung pakai jari dan apabila digabungkan maka luas lahannya hanya tersisa 15-20 ha.

“Jika dahulu, 60-70% penduduk, bertani kopi dan sudah mandiri dalam memenuhi kebutuhan kopi untuk kebutuhan sehari-seharinya,” sambung dia.

Geliat bertanam kopi laut kembali muncul setelah adanya proses pendampingan yang dilakukan kelompok kerja Badan Restorasi Gambut (BRG) di Sumsel.

Diakui Sutarman, ia dan beberapa petani yang masih semangat bertani kopi cukup banyak mendapatkan pendampingan, terutama dalam proses panen, pengemasan dan tata niaga kopi yang dikenal dengan jenis liberika tersebut.

“Pada dua tahun belakangan, kopi ini semakin dikenal lebih luas. Jika selama ini, kami hanya membungkusnya dalam kantong plastik dan dikemas seadanya,  sekarang lebih modern. Bahkan, sudah bisa dikatakan kopi yang berkualitas bagus,” ujarnya.

Mengubah tatanan bertanam kopi yang lebih baik memang tengah dilakukan oleh Sutarman dan sejumlah petani kopi lainnya.  Mereka mulai selektif dalam pemanenan yaitu memilih panen petik merah untuk kualitas kopi lebih baik dan meninggalkan panen petik seluruh yang dilakukan selama ini.

“Selama ini, pemasaran kopi hanya di Palembang dan sekitarnya. Sejak dikenalkan juga oleh pemerintah kabupaten, kopi ini pernah dibawa ke luar negeri saat kunjungan kerja pak Bupati. Kopi ini makin dikenal, dan pemerintah kabupaten ingin kopi ini menjadi  salah satu ikon kuliner kabupaten,” terangnya.

Untuk jumlah hasil produksi, ia mengatakan jika tanaman kopi di lahan gambut (liberika) lebih kontinu. Meski bukan waktu panen,  tanaman kopi ini mampu menghasilkan buah selang yang juga bisa menambah penghasilan petani. Kopi liberika asal Banyuasin ini dihargai sebesar Rp15.000/kg, harga yang lebih tinggi berlaku untuk kopi kualitas  premium.

“Jika dibandingkan dengan Jambi yang juga memiliki produksi kopi dengan varian yang sama,  kualitas kopi Banyuasin memang lebih rendah. Karena itu, kami juga butuh dukungan pemerintah agar kualitas kopi laut ini menjadi lebih bagus dan bisa bersaing, sehingga harga jualnya pun bisa lebih tinggi dibandingkan sekarang,” ungkapnya.

Saat ini, Sutarman mengakui beberapa petani di desanya sudah ingin kembali bertanam kopi gambut, mengingat kesinambungan hasil produksinya.

“Selama ini ditinggalkan itu karena harganya jatuh, namun jika dikelola dengan pendampingan yang terus menerus oleh pemerintah. Mudah-mudahan, kopi laut ini kembali dikenal. Karena hanya satu-satunya, areal (kebun) di Banyuasin yang ditanam kopi gambut liberika ini,” pungkasnya.

Selain menjadi ciri khas masyarakat desa yang sudah lama menanam kopi liberika ini, apabila dikelola secara baik maka usaha menanam kopi ini juga akan meningkatkan ekonomi masyarakat desa.

Dukungan bertanam kopi juga diungkapkan Kepala Desa Air Gading, Narto. Dirinya bersama dengan pemerintah kabupaten tengah mengupayakan desa tersebut menjadi desa ekowisata, baik karena kuliner khas kopinya atau terdapat gajah dan jenis satwa lainnya.

“Kopi laut, sudah lama terkenal dan kami juga ingin mengenalkan kembali kopi ini sebagai ikon desa,” ungkapnya.

Bupati Banyuasin, Askolani mengungkapkan kopi laut ini akan lebih sering dipromosikan, terutama saat kunjungan kerja sekaligus akan menjadi salah satu ikon kuliner asli Banyuasin.

“Kita akan kembali mengenalkan kopi ini juga bagian dari gambut di Sumsel,” ucapnya melalui pesan singkat.

Desa tersebut juga akan diupayakan menjadi desa ekowisata selain memiliki produksi kopi juga sebagai tempat perlindungan satwa-satwa asli gambut.

 

 

Dukung kami

Bagikan informasi ini kepada keluarga dan teman-temanmu.