Restorasi gambut di Indonesia

Restorasi gambut adalah proses panjang untuk mengembalikan fungsi ekologi lahan gambut; sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang terkena dampak dari menyusutnya lahan gambut.

Peraturan Menteri no.16/ 2017 tentang Pedoman Teknis Restorasi Fungsi Ekosistem Gambut telah memaparkan kriteria kerusakan gambut, baik dalam fungsinya sebagai pelindung ekosistem maupun budi daya:

  • Ekosistem gambut dengan fungsi lindung mengalami kerusakan apabila:
    • terdapat drainase (pembuangan massa air) buatan
    • tereksposnya sedimen berpirit (bila terekspos ke udara, kandungan kimia dalam sedimen akan menjadi asam sulfat yang berbahaya untuk produktivitas tanaman) dan/atau kuarsa di bawah lapisan gambut 
    • terjadi pengurangan luas dan/atau volume tutupan lahan 
  • Ekosistem gambut dengan fungsi budidaya mengalami kerusakan apabila:
    • muka air tanah di lahan gambut lebih dari 0,4 meter di bawah permukaan gambut pada titik penataan dan/atau;
    • tereksposnya sedimen berpirit dan/atau kwarsa di bawah lapisan gambut 

Badan Restorasi Gambut mengupayakan restorasi melalui pendekatan 3R: rewetting atau pembasahan gambut, revegetasi atau penanaman ulang, serta revitalisasi atau restorasi sumber mata pencaharian.

Berdasarkan analisis WRI, upaya restorasi 2 juta hektar gambut—yang tercantum dalam Peraturan Presiden no. 1/2016 tentang Pembentukan Badan Restorasi Gambut—dapat mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) hingga 7,8 gigaton. Ini kira-kira setara dengan emisi gas rumah kaca Amerika Serikat selama setahun.

Langkah-langkah restorasi gambut

  • Langkah 1: Memetakan gambut

    Pemetaan gambut perlu dilakukan untuk menentukan lokasi gambut yang menyusut dan mengetahui tipe serta kedalamannya. Pemetaan ini merupakan langkah awal yang krusial karena kondisi gambut yang berbeda memerlukan jenis restorasi yang berbeda pula, misalnya dalam menentukan letak pembuatan sekat kanal untuk mengatur kadar air. Metodologi yang seragam, tepat guna, dan murah untuk mengukur kedalaman gambut juga penting demi menentukan upaya restorasi yang tepat.

    Indonesia memiliki peta sebaran lahan gambut nasional dari Kementerian Pertanian tahun 2011. Peta ini sangat penting untuk mengidentifikasi sebaran lahan gambut dan indikasi ketebalannya. Namun, diperlukan peta gambut yang lebih rinci untuk melakukan perencanaan restorasi dan pengelolaan gambut lestari di tingkat tapak.

  • Langkah 2: Menentukan jenis, pelaku, dan rentang waktu pelaksanaan restorasi

    Setelah melakukan pemetaan gambut yang perlu direstorasi, pelaku restorasi dapat menentukan jenis restorasi yang sesuai dengan kondisi gambut. Ada gambut yang perlu melewati siklus pembasahan terlebih dahulu, dan ada pula yang dapat langsung ditanam ulang (revegetasi). Setelah menentukan jenis restorasi, baru dapat ditentukan pemangku kepentingan mana saja yang terlibat dan rentang waktu pelaksanaannya.

  • Langkah 3: Membasahi gambut/rewetting

    Pembasahan gambut diperlukan untuk mengembalikan kelembapannya. Pada tahap ini, penataan air juga diperlukan, misalnya dengan membuat kanal buatan agar air tetap berada di lahan gambut. Di daerah yang mengalami kekeringan, sumur bor dapat membantu proses pembasahan.

  • Langkah 4: Menanam di lahan gambut/revegetasi

    Ketika lahan gambut sudah kembali lembap, lahan bisa kembali ditanami. Pilih tanaman yang tidak mengganggu siklus air dalam ekosistem gambut, seperti jelutung, ramin, pulau rawa, gaharu, dan meranti. Beberapa tanaman seperti kopi, nanas, dan kelapa juga merupakan tanaman yang ramah gambut dan mempunyai nilai ekonomi untuk masyarakat lokal.

    Proses penanaman akan menjaga keberlangsungan ekosistem gambut, memperkokoh sekat kanal, serta melindungi lahan gambut dari kikisan aliran air kanal.

  • Langkah 5: Memberdayakan ekonomi masyarakat lokal

    Restorasi lahan gambut tidak hanya berhenti pada pulihnya ekologi dan penanaman ulang. Restorasi juga harus memperhatikan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal. Masyarakat perlu memiliki alternatif penghidupan. Jika tidak, mereka akan kembali mengeringkan lahan gambut untuk menanam tumbuhan yang kaya nilai ekonomi, namun tidak ramah gambut.

    Pelaku restorasi gambut harus selalu berembuk dengan warga untuk mencari cara-cara meningkatkan taraf kehidupan mereka. Ini bisa dilakukan dengan pengolahan lahan gambut, seperti penanaman sagu, karet, kopi, dan kelapa—atau dengan menggalakkan perikanan dan pariwisata alam.

Pelajari topik lainnya