Meraup Pundi Rupiah dari Pesisir Lahan Gambut Jambi

Yitno Suprapto, dari Pantau Gambut
23 Desember 2020 | Jambi

Suara kecipak dayung memecah keheningan anak sungai yang membelah Desa Sungai Beras, Kecamatan Mendahara Ulu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi. Di antara rimbunnya batang nipah (Nypa fruticans) yang tumbuh liar sepanjang sungai, Marwiyah mengayunkan parangnya menebas pelepah nipah yang mulai meranggas. Parang bergerak liar, membabat satu per satu pelepah nipah, perlahan menumpuk dalam sampan.

Pohon Nipah tumbuh subur di sepanjang Sungai Mendahara, di Desa Sungai Beras, Kecamatan Mendahara Ulu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur ©Yitno Suprapto untuk Pantau Gambut

Di kawasan pesisir Tanjung Jabung Timur pohon nipah tumbuh subur tanpa perlu campur tangan manusia. Tanaman yang jadi penyangga kawasan gambut itu juga menjadi habitat satwa liar di sepanjang Sungai Mendahara dan anak-anaknya, sekaligus sumber penghidupan masyarakat di sekitarnya.

Dalam sehari, Marwiyah bisa mengumpulkan puluhan pelepah nipah. Dipotong sepanjang satu meter. Pelepah-pelepah itu dibelah lalu dijemur hingga kering sebelum akhirnya dibakar untuk bahan membuat garam.

Sejak 2018, sepulang dari pelatihan sekolah seniman pangan di Javara Indonesia, Jakarta yang difasilitasi Badan Restorasi Gambut (BRG), ibu rumah tangga itu mulai membuat garam dari pelepah nipah untuk memenuhi pesanan pelanggannya.

Untuk membuat satu kilogram garam nipah, Marwiyah setidaknya butuh hampir 100 kilogram pelepah nipah basah. Namun, itu bukan masalah karena pohon nipah tumbuh subur sepanjang sungai di wilayah pesisir Tanjung Jabung Timur. Ia cukup mengambil beberapa pelapah pohon nipah bagian paling bawah yang banyak mengandung garam

“Saya sudah hitung, pelepah basah 28 kilogram itu kalau sudah dijemur kering tinggal 5 kilo, dibakar, hasil garamnya cuma tiga ons,” kata Marwiyah.

Perempuan 51 tahun itu mulai menjelaskan tahap demi tahap cara membuat garam dari pelepah nipah. “Pelepah yang basah itu dijemur, biar cepet kering dibelah-belah kecil-kecil. Setelah kering, nanti dibakar, abunya dikasih kasih air disaring biar besih, setelah itu baru direbus sampai kering, nanti muncul kerak, itulah garamnya.”

Butuh waktu 5-7 hari untuk membuat pelepah nipah menjadi garam. “Kalau panasnya bagus bisa cepat, tapi kalau sering hujan macam sekarang ini bisa lama, pelepah tu gak kering-kering,” kata Marwiyah.

Harga garam nipah yang cukup mahal, mampu membantu perekenomian keluarganya di tengah ekonomi yang terus tertekan akibat pandemi Covid-19. Satu kilogram garam nipah bisa dihargai Rp 500 ribu. Harga yang cukup mahal bila dibandingkan dengan garam air laut.

Tetapi Marwiyah masih kesulitan untuk memasarkan garam nipah ke masyarakat karena harga yang relatif mahal. “Orang kan mikirinya ngapain beli garam mahal-mahal, kalau dibelikan garam biasa bisa dapat banyak. Mereka belum tahu manfaatnya buat kesehatan.”

Sementara ini dia baru menjual garam nipah ke Javara Indonesia. Sejak 2018 Marwiyah mulai menyuplai garam nipah ke Javara, namun sempat terhenti karena masalah harga. Kini hubungan bisnis itu kembali berlanjut. Bahkan ia berencana mengajak kelompok ibu PKK di Sungai Beras untuk ikut memproduksi garam nipah, jika permintaan dari Javara Indonesia terus meningkat. “Bulan ini Javara pesan 5 kilogram, kalau permintaannya tambah banyak bisa saya ajak ibu-ibu PKK juga,” katanya.

Istri Kholik itu juga bilang, garam nipah mengandung antioksidan dan aman dikonsumsi bagi penderita stroke dan darah tinggi. Itu diketahui setelah ikut pelatihan di Javara Indonesia.

Asmadi Saad, dosen agroteknologi di Universitas Jambi mengatakan, garam nipah memiliki unsur yang lebih kompleks dibanding garam laut, karena dibuat dari bahan organik.

“Garam nipah itu mengandung zat besi (Fe), magneisum (Mg), natrium (Na) ada kalium (K), karena bahannya organik. Kalau garam dari air laut itu cenderung mengandung NaCl (natrium klorida). Karena buatnya  kan dikeringkan hingga jadi kristal,” kata Asmadi.

Namun, dosen yang juga menjadi anggota kelompok ahli Badan Restorasi Gambut itu belum bisa memastikan jika garam dari nipah benar-benar aman dikonsumsi penderita hipertensi maupun stroke.

“Sampai sekarang belum ada penelitian yang bisa membuktikan itu. Mungkin ini yang sekarang perlu diteliti lebih lanjut,” kata Asmadi.

Di Indonesia, produsen garam nipah masih terbatas, utamanya di Papua. Jambi yang kaya pohon nipah, juga mulai memproduksi garam setelah Marwiyah mengikuti pelatihan di Javara Indonesia. Masih minimnya produksi garam dari pohon nipah membuat supply ke pasar terbatas sehingga membuat harganya cukup mahal.

Rispa, Kepala Bidang Industri Dinas Perindustrian dan Pedagangan Kabupaten Tanjung Jabung Timur, mengaku selalu mendukung potensi yang ada di daerahnya.  “Selama punya potensi untuk meningkatkan ekonomi masyarakat dan kearifan lokal, kita selalu dukung, dan kita dorong untuk dikembangkan” katanya.

“Kita bantu promosi dan pemasarannya. Kan Kita (pemerintah) punya rumah oleh-oleh, jadi bisa dititipin di sana,” imbuh Rispa.

Menurutnya masalah yang dihadapi selama  ini adalah masyarakat belum bisa konsisten untuk memproduksi hasil olahannya.”Kadang itu produksi kadang tidak. Kita juga bingung mau promosiinnya, tapi pas ada event kita minta mereka buat agar bisa dipromosikan di pameran.”

Sejak beberapa dekade lalu, masyarakat Sungai Beras sebetulnya sudah mengenal garam dari pelepah nipah. Namun proses pembuatannya tidak dibakar, tetapi pelepah nipah yang masih basah itu digiling untuk diambil airnya. Air itulah yang kemudian direbus hingga menghasilkan garam.

“Zaman waktu masih susah dulu, orang tuo kito juga buat garam dari nipah, karena belum ado garam laut kayak sekarang. Kalau sekarang garam kan sudah banyak yang jual, harganya juga murah. Jadi gak pakai garam dari nipah lagi,” kata Hamid, Kepala Dusun Sungai Beras.

Selain pelepah yang bisa diolah menjadi garam, buah nipah muda juga bisa dijus. “Biar rasanya agak manis bisa ditambahkan gula aren, jadi semua organik, lebih sehat.”

Sementara buah setengah tua bisa diolah jadi dodol. Marwiyah membuktikan jika dodol buah nipah tak kalah nikmat dari dodol kelapa. Olahan buah nipah itu bisa merebut juara tiga dalam lomba olahan makanan di tingkat Provinsi Jambi beberapa waktu lalu.

“Kalau buah yang sudah tua bisa dibuat jadi tepung untuk buat kue. Saya sudah coba, enak dibuat kukis (cookies)”.

Di tangan-tangan kreatif, buah nipah yang sudah tua dan rontok pun bisa dimanfaatkan untuk bahan kerajinan untuk suvenir. “Ada yang dibuat jadi boneka, ada juga mainan untuk gantungan kunci,” kata Rispa.

Event wisata tahunan yang digelar oleh  Pemerintah Tanjung Jabung Timur menjadi waktu yang tepat untuk mempromosikan produk olahan masyarakat. Misalnya, Festival Kampung Laut  di Bulan April hingga Agustus,  ribuan orang akan berkumpul, dan beragam kuliner khas pesisir laut ditawarkan. Tradisi Mandi Safar, setiap bulan Safar dalam kalender Hijriah juga mampu menarik ribuan pengunjung.

 

Ancaman Karhutla

Kebakaran dan eksploitasi lahan gambut di Tanjung Jabung Timur ikut menggerus habitat pohon nipah yang tumbuh subur di pinggiran sungai. Dari total 181 ribu hektar lahan gambut, sebagian besar telah dikuasai perusahaan perkebunan dan HTI. Banyak gambut rusak dan akhirnya memicu kebakaran berulang.

Kerusakan gambut akibat kebakaran tidak hanya menjadikan lingkungan sebagai korban, tetapi juga masyarakat yang hidup di sekitarnya. Habitat rusak, lahan pangan terganggu, kesehatan pun terancam.

Kebakaran lahan yang terjadi di wilayah Tanjung Jabung Timur 2007 membuat masyarakat Desa Sungai Beras belajar banyak cara mengolah lahan gambut. Mereka ketat menjaga tinggi muka air agar lahan gambut yang dikelola tetap aman dari api. Mereka membuktikan saat bencana kebakaran 2015 dan 2019 meluluhlantakkan bentang alam, Desa Sungai Beras berhasil selamat dari api.

“Masyarakat Sungai Beras punya aturan ketat—menjaga tinggi muka air—tak bisa mengolah gambut sembarangan. Mereka mampu menjaga gambut tetap basah sehingga terhindar dari bencana kebakaran,” kata Sukma Reni, Koordinator Devisi Komunikasi KKI Warsi.

Perlahan warga Sungai Beras juga mulai menerapkan pola agroforestri sebagai salah satu upaya pengelolaan lestari pada lahan perkebunan mereka. Sekitar 67 hektar kebun pinang dan kelapa dalam digarap dengan pola tumpang sari dengan tanaman kopi. Sebagian kebun kelapa sawit juga diganti dengan kopi liberika yang ditanam bersama jelutung rawa yang lebih ramah gambut.

 “Ada 4 hektar petani yang mulai budidaya kopi,” kata Habibi Mainas, fasilitator komunitas dan kabupaten gambut.

Menjaga gambut tetap basah bukan hanya menjadi benteng untuk mencegah bencana kebakaran tetapi juga menyelamatkan ekosistem gambut dari degradasi.

Sejatinya masyarakat Sungai Beras telah mengamankan lahan pangan mereka  dengan menerapkan pola tanam agroforestri yang ramah gambut. Praktik lestari ini sudah seharusnya menjadi pembelajaran berharga bagi masyarakat wilayah lain bahwa pengelolaan lahan gambut untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi seharusnya juga mempertimbangkan aspek ekologis sehingga dampak yang merugikan akibat bencana karhutla bisa diminimalisir.

Dukung kami

Bagikan informasi ini kepada keluarga dan teman-temanmu.