Restorasi lahan gambut, kembalikan ekosistem alam demi masyarakat dan lingkungan

Evrina Budiastuti Jakarta

Indonesia dianugerahi kekayaan alam yang melimpah baik di darat maupun lautan. Di antara kekayaan alam tersebut terdapat hutan rawa lahan gambut yang merupakan rumah bagi flora dan fauna.

Lahan gambut merupakan lahan yang terbentuk dari penumpukan bahan organik yang terjadi sejak ribuan tahun lalu. Bahan organik ini berasal dari tumbuhan maupun jasad hewan yang menumpuk dan sebagian tidak terdekomposisi dengan baik akibat tergenang air.

Indonesia dianugerahi kekayaan alam yang melimpah baik di darat maupun lautan. Di antara kekayaan alam tersebut terdapat hutan rawa lahan gambut yang merupakan rumah bagi flora dan fauna.

Lahan gambut merupakan lahan yang terbentuk dari penumpukan bahan organik yang terjadi sejak ribuan tahun lalu. Bahan organik ini berasal dari tumbuhan maupun jasad hewan yang menumpuk dan sebagian tidak terdekomposisi dengan baik akibat tergenang air.

Perlu diketahui bahwa luas lahan gambut yang ada di Indonesia merupakan terbesar keempat setelah Canada (170 juta ha), Uni Soviet (150 juta ha), serta Amerika Serikat (40 juta ha). Lahan gambut ini tersebar di tiga pulau besar yaitu Sumatera, Kalimantan dan Papua. Apabila dijumlahkan, maka luas lahan gambut yang ada di Indonesia sekitar 14,9 juta hektar atau sedikit lebih luas dari pulau Jawa.

Keberadaan lahan gambut di Indonesia memang cukup luas dan berpotensi untuk dimanfaatkan namun dengan tetap mengindahkan kaidah konservasi.

Lahan Gambut, Manfaat dan Dampak Penyalahgunaan

Lahan gambut di Indonesia menyimpan cadangan karbon yang cukup tinggi yaitu mencapai 22,5-43,5 gigaton karbon. Apabila digambarkan, maka jumlah karbon tersebut setara dengan emisi yang dilepaskan 17-33 miliar mobil pribadi dalam 1 tahun.

Aktivitas pembukaan lahan gambut untuk pertanian atau perkebunan menyebabkan gambut menjadi kering. Cadangan air yang ada di tanah gambut ikut terkuras akibat pembuatan drainase ditambah dengan paparan langsung dari sinar matahari. Hal ini menyebabkan terjadinya proses pembusukan sehingga karbon yang ada di lahan tersebut berinteraksi dengan oksigen membentuk gas CO2 yang menimbulkan efek rumah kaca.

Lahan gambut yang kering akan mudah terbakar terutama pada saat musim kemarau ditambah dengan aktivitas pembakaran hutan yang dapat menimbulkan bencana asap seperti yang terjadi pada tahun 2015 lalu. Data dari Global Forest Watch Fires menyebutkan bahwa 52% kebakaran di Indonesia terjadi di lahan gambut pada bulan Oktober 2015 lalu. Bencana tersebut mengakibatkan lebih dari 120,000 penduduk terserang penyakit pernapasan, gangguan akses terhadap pendidikan dan jaringan transportasi, kerugian finansial negara sebesar 220 triliun rupiah, lepasnya emisi gas rumah kaca (GRK), serta terancamnya habitat flora dan fauna.

Lahan gambut berperan dalam mengatasi bencana saat musim hujan maupun kemarau berkat sifatnya yang mudah menyerap air. Saat musim kemarau, tanah gambut berperan sebagai sumber cadangan air dan pengendali banjir saat musim hujan. Diketahui lahan gambut mampu menyimpan air hingga 13 kali dari bobotnya sehingga perannya sangat penting sekali untuk menjaga lingkungan saat kondisi ekstrim terjadi. Selain itu, lahan gambut juga berperan sebagai habitat sumber pangan seperti ikan, udang, dan kepiting yang menunjang kehidupan masyarakat lokal di sekitarnya.

Kebakaran di Lahan Bukan Gambut, 7-14 Oktober 2015 48%

Kebakaran di Lahan Gambut, 7-14 Oktober 2015 52%

Sayangnya, sebagian besar lahan gambut di Indonesia telah digunakan untuk berbagai macam kepentingan. Tentunya apabila tidak ditangani dengan baik akan memberikan dampak buruk bagi makhluk hidup. Untuk itu restorasi harus dilakukan.

Pentingnya Restorasi Lahan Gambut Bagi Masyarakat dan Lingkungan

Restorasi lahan gambut membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan laju kehidupan mahluk hidup itu sendiri. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa proses akumulasi karbon dan pertumbuhan tanah gambut sangat lambat, tetapi karbon dioksida sangat cepat dilepaskan. Penelitian tersebut menemukan bahwa dalam setahun, lebih dari 2.300 hektar hutan lahan gambut pesisir alami Indonesia diperlukan untuk menyerap jumlah setara karbon yang hilang selama 100 tahun dari satu hektar hutan terkonversi.

Begitu pentingnya tindakan restorasi, membuat pemerintah melakukan beberapa tindakan tegas seperti:

  1. Moratorium
    Moratorium konsesi baru pada tahun 2016 lalu untuk perkebunan kelapa sawit dan lahan bagi penambangan dalam upaya melindungi lingkungan.
  2. Mengeluarkan Peraturan Pemerintah
    Mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 57 Tahun 2016 yang merupakan perubahan terhadap PP No. 71 Tahun 2014 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut. Perubahan ini mampu memperkuat kebijakan perlindungan fungsi ekosistem gambut.
  3. Membentuk Badan Restorasi Gambut
    Membentuk Badan Restorasi Gambut (BRG) sebagai upaya untuk melakukan pencegahan kebakaran di lahan gambut di masa mendatang melalui Perpres No 1 Tahun 2016.

Untuk melakukan restorasi lahan gambut harus dilakukan secara terintegrasi baik dari pemerintah pusat hingga ke level masyarakat dengan melibatkan semua lini. Masing-masing lini memiliki peran tersendiri yang harus didukung satu sama lain.

Sebagai masyarakat kita dapat turut serta menyukseskan program restorasi gambut, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan cara:

  • Secara langsung
    Dengan ikut terlibat secara langsung terhadap program restorasi gambut yang dilaksanakan oleh pemerintah maupun pihak terkait. Seperti yang dicanangkan oleh BRG melalui Desa Peduli Gambut dan Generasi Muda Peduli Desa Gambut Sejahtera (GMPDGS). Selain itu kita juga bisa ambil bagian dengan mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh organisasi yang bermitra dan bersinergi di tingkat nasional maupun daerah dalam menangani lahan gambut.
  • Secara tidak langsung
    Ikut serta melakukan pantau gambut secara mandiri dengan memahami kebijakan serta program terkait restorasi gambut, mencari tau segala informasi terkait restorasi dan membantu menyebarkannya kepada masyarakat agar semakin banyak orang yang peduli terhadap kondisi lahan gambut. Melalui langkah tersebut, paling tidak kita dapat membantu meminimalisir tindakan perusakan dan penyalahgunaan lahan gambut di level masyarakat yang mungkin belum terjamah oleh pemerintah maupun pihak terkait.

Saat ini terdapat platform Pantau Gambut yang merupakan media online penggabungan dari  teknologi, kolaborasi data, dan jaringan masyarakat yang bertujuan untuk memberikan informasi bebas biaya seputar restorasi gambut di Indonesia. Melalui websitenya, #PantauGambut menjelaskan bahwa secara berkala akan membagikan perkembangan kegiatan dan komitmen restorasi ekosistem gambut oleh segenap pemangku kepentingan di Indonesia, termasuk pemerintah, organisasi masyarakat sipil, serta pelaku usaha.

Nah, kita bisa ikut bergerak menyukseskan restorasi lahan gambut dengan memanfaatkan empat fitur pantau gambut yaitu:

  1. Pantau Komitmen
    Memantau perkembangan komitmen pejabat publik dan pihak lain untuk merestorasi lahan gambut.
  2. Peta Restorasi
    Mengikuti aktivitas dan pelaku restorasi lahan gambut di Indonesia menggunakan peta interaktif yang tersebar di beberapa lokasi
  3. Berbagi Cerita
    Membagikan pengalaman, opini dan pengetahuan seputar restorasi gambut kepada masyarakat agar lebih banyak lagi pihak yang peduli dan mau berpartisipasi mengembalikan fungsi lahan gambut.
  4. Pelajari
    Memahami pentingnya gambut untuk kehidupan manusia dan mengetahui langkah-langkah dalam melakukan restorasi gambut.

Tindakan sekecil apapun baik langsung maupun tidak langsung terhadap restorasi lahan gambut, diharapkan dapat menyelamatkan keberadaannya. Lahan gambut memiliki peran yang sangat besar dalam penyerapan karbon dunia, maka merestorasi dan melestarikannya menjadi tanggung jawab bersama. Dengan melakukan restorasi lahan gambut, diharapkan dapat mengembalikan ekosistem alam demi keberlangsungan kehidupan masyarakat dan lingkungan.