Pentingnya restorasi gambut bagi masyarakat dan lingkungan

Muhammad Amin Jakarta

Kebakaran hutan merupakan fenomena yang sering terjadi di Indonesia (Stolle et al, 1999) yang menjadi perhatian lokal dan global (Herawati dan Santoso, 2011). Kebakaran hutan bukan hal baru di Indonesia karena di Sumatera dan Kalimantan kebakaran hutan sudah terjadi sejak abad ke-17 (Barber dan Schwiehelm, 2009). Namun baru pada tahun 1980 terjadi peningkatan luas dan intensitas terjadinya kebakaran hutan, khususnya di Sumatera dan Kalimantan. Lahan yang mudah terbakar tersebut adalah lahan gambut. Kebakaran hutan dan/atau lahan telah menimbulkan fenomena kabut asap yang merupakan salah satu sumber emisi gas rumah kaca.

Fenomena kabut asap merupakan peristiwa yang belakangan ini marak menjadi perhatian masyarakat luas. Munculnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan/atau lahan secara besar-besaran menimbulkan dampak multi-dimensional yang sangat besar dan bersifat merugikan. Salah satu dari dampak tersebut adalah terjadinya degradasi kualitas udara yang sangat signifikan, yang berimbas pada penurunan tingkat kenyamanan dan kesehatan bagi masyarakat yang mengalami kabut asap (Greenpeace, 2015).

Penyebab Kebakaran Hutan dan/atau Lahan Gambut

Penyebab terjadinya kebakaran hutan sangat beragam, tetapi menurut Suratmo (1985), lebih dari 90% kebakaran hutan disebabkan oleh manusia. Kebakaran hutan pada hutan alam juga disebabkan oleh kelalaian manusia yang didorong oleh adanya musim kemarau yang panjang, sehingga potensi bahan bakar meningkat. Menurut Fuller (1991) dan dipertegas kembali oleh Debano et al. (1998), api (kebakaran) bisa terjadi apabila terdapat tiga komponen, antara lain : bahan bakar, energi panas, dan oksigen yang disebut segitiga api (fire triangle). Kebakaran hutan disebabkan oleh dua faktor utama yaitu faktor alam dan faktor manusia baik disengaja atau pun tidak disengaja (Direktorat Perlindungan Hutan, 1983). Secara alami kebakaran hutan disebabkan oleh tiga faktor yaitu adanya oksigen, bahan bakar, dan sumber panas.

Efek Kebakaran Hutan dan/atau Lahan Gambut

Kebakaran hutan dan/atau lahan yang terjadi pada tahun 2015 yang lalu menyebabkan berbagai kerugian di berbagai sektor. Seperti yang dilansir di situs www.pantaugambut.id , kerugian tersebut meliputi:

Kota Sawahlunto-Provinsi Sumatera Barat

Kebakaran hutan dan/atau lahan gambut yang melanda Sumatera dan Kalimantan dirasakan juga dampaknya oleh masyarakat di Provinsi Sumatera Barat. Hampir semua Kabupaten/Kota di provinsi ini terpapar kabut asap selama kurang lebih hampir tiga bulan, terutama masyarakat Kota Sawahlunto. Kota Sawahlunto yang dikelilingi oleh perbukitan menyebakan kota ini berbentuk seperti kuali yang jika pencemar masuk ke daerah tersebut sangat susah untuk hilang karena hanya bisa terdeposisi secara vertikal ke atas dan ke bawah. Bersama alumni Teknik Lingkungan ITB angkatan 1994 saya membagikan masker gratis N-95 untuk mereduksi penyakit pernafasan di daerah itu. Berikut ini adalah beberapa foto kegiatan pembagian masker pada tahun 2015.

Terlahir Ide untuk Membuat Skripsi atau Tugas Akhir

Setelah melihat sendiri kondisi Kota Sawahlunto yang diselimuti kabut asap akibat kebakaran lahan gambut, terpikir oleh saya dan pembimbng saya untuk menjadikan peristiwa ini sebagai bahan penelitian dalam menyelesaikan tugas akhir saya. Dengan dibimbing oleh Dr. Fadjar Goembira, M.Sc dan Defriman Djafri, Ph.D saya menggarap skripsi dengan judul “Analisis Konsentrasi Logam Dalam PM10 Di Udara Ambien  Kota Sawahlunto Pada Saat Kabut Asap Serta Perkiraan Risiko Terhadap Kesehatan”. Hal ini dikarenakan banyaknya masyarakat yang terkena gangguan pernapasan.

Particulatte Matter (PM10)

Salah satu pencemar yang diemisikan oleh kebakaran lahan gambut yang menyebabkan banyaknya masyarakat mengalami gangguan pernafasan bahkan menyebabkan kematian adalah partikel berukuran 10 mikrometer atau disebut juga dengan PM10. Berikut ini adalah gambar ilustrasi dari PM10.

Partikel debu yang berdiameter kurang dari 10 μm sangat berbahaya, karena memiliki kemampuan yang lebih besar untuk menembus ke dalam paru. Rambut di dalam hidung dapat menyaring debu yang berukuran lebih besar dari 10 μm. PM10 diperkirakan berada antara 50 dan 60% dari partikel melayang yang mempunyai diameter hingga 45 μm (total suspended particulate). (UNEP, 1994).

Sangat berbahaya bukan?

Penemuan Penelitian dalam Kabut Asap Akibat Kebakaran Lahan Gambut tahun 2015

Setelah melakukan penelitian kurang lebih 60 hari. Dengan melakukan berbagai kegiatan seperti studi pustaka, mengambil sampel di lapangan, dan juga melakukan eksperimen di Laboratorium Kualitas Udara Jurusan Teknik Lingkungan. Saya mendapatkan hasil yang sangat menghawatirkan untuk kondisi kesehatan masyarakat di Kota Sawahlunto.

Bukan hanya berbahaya dari segi ISPU, tapi juga sangat menghawatirkan pada saat saya meneliti kandungan logam yang bersifat karsinogen dan non karsinogen dalam PM10 tersebut. Kemudian saya integrasikan dengan kemungkinan masyarakat Kota Sawahlunto yang akan terkena kanker selama 30 tahun kedepan. Berikut adalah hasilnya.

Setelah melakukan perhitungan dengan data yang didapatkan, saat itu penelitian tersebut mengindikasikan bahwa akan ada 129 sampai 130 dari total 1.000 anak-anak di Kota Sawahlunto diperkirakan akan menerima efek kanker akibat terpapar logam dalam PM10 akibat kabut asap dan akan ada 58 sampai 59 dari 1.000 orang dewasa yang akan terkena kanker di Kota Sawahlunto. Sangat mengerikan bukan? Hal ini tidak bisa kita abaikan. Ini harus dicegah dan dihentikan, karena jika tidak, Indonesia akan kehilangan generasi mudanya yang akan melanjutkan perjalanan bangsa ini.

Penelitian yang saya lakukan kemudian menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintahan Kota Sawahlunto khususnya Dinas Kesehatan dalam mengambil keputusan terkait pencemaran udara akibat kebakaran hutan dan/atau lahan gambut dikemudian hari di Kota Sawahlunto. Seperti meliburkan anak-anak SD sekolah apabila mencapai tingkat konsentrasi tertentu. Oleh karena bahaya kebakaran hutan dan/atau lahan ini sangat tinggi, kita harus saling berpegangan tangan, saling merangkul, saling mengingatkan dan menyadarkan bahwa fenomena kebarakan hutan dan ahan gambut yang terjadi beberapa tahun belakangan ini tidak boleh terjadi lagi dan restorasilahan gambut adalah harga mati demi menyelematkan nyawa manusia dan juga alam tempat kita, anak dan cucu kita melanjutkan hidup. Karena hal ini juga saya semakin tertarik untuk melanjutkan penelitian skripsi saya ke jenjang tesis dengan judul “Analisis Konsentrasi dan Karakteristik Nanopartikel (PM0,1 dan 1) akibat Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia” yang akan dibimbing oleh Prof. Furuuchi Masami dan Dr, Mitsuhiko Hata di Jurusan Environmental Design, Kanazawa University, Jepang.

Selanjutnya apa yang harus dilakukan? Atau apa solusi dari permasalahan ini?

“Melindungi dan merestorasi hutan dan lahan gambut” adalah salah satu solusi yang bisa dilakukan oleh semua kalangan, baik itu pemerintah, masyarakat dan juga pelaku usaha. Karena hutan danlahan gambut sangat berperan penting dalam menjaga suhu bumi. (www.pantaugambut.id, 2017). Karena hal ini, saya ingin menegaskan kembali bahwa restorasi lahan gambut sangatlah penting baik itu bagi masyarakat dan maupun bagi lingkungan. Bergabung dan mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh LSM atau komunitas seperti www.pantaugambut.id adalah salah satu langkah nyata untuk ikut bepartisipasi dalam penjagaan hutan dan/atau lahan gambut Indonesia. Berikut ini adalah cara yang bisa dilakukan dalam melakukan restorasi lahan gambut di Indonesia sesuai dengan pedoman pemulihan ekosistem gambut dari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan tahun 2015.  

Ayo... mari bersama melakukan restorasi lahan gambut di Indonesia. Bersama kita bisa menjaga bangsa.