Pahlawan gambut: Restorasi demi kelangsungan generasi

Andy Lie Jakarta

Dilansir dari tulisan Andy, juara favorit Kompetisi Menulis Pantau Gambut

Kita patut bersyukur lahir di negara Indonesia yang dikaruniai kekayaan alam berlimpah serta tanah yang subur. Sayang sekali, sebagian dari kita mulai dibutakan oleh berkah ini sehingga melupakan betapa pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. “Semua peristiwa ulah manusia, bencana seakan bumi telah musnah”. Penggalan lagu “Satu Indonesia” milik Kotak mengingatkan bila kita tetap tidak peduli dengan lingkungan, suatu saat sumber daya melimpah itu akan semakin cepat habis. Lagu ini juga mengajak kita bangkit bersatu dalam memperbaiki kerusakan yang telah kita ciptakan sendiri. Salah satu bencana alam yang mengakibatkan kerusakan dan kerugian besar yaitu kebakaran hutan. Pada tahun 2015 terjadi kebakaran seluas 1.7 juta hektar dimana 52% terdiri dari lahan gambut dan mengakibatkan kerugian mencapai $1.6 milyar. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana juga menunjukkan bahwa 503.874 orang terserang ISPA karena kabut asap di tahun 2015.

Saya lahir di Pontianak, bagian dari pulau Kalimantan yang dikenal sebagai paru-paru dunia. Meskipun demikian, sumber udara segar ini semakin kehabisan nafasnya dikarenakan tidak terkendalinya kebakaran hutan dan lahan. Di Kalimantan, hampir separuh hutan sudah hilang ataupun dialih fungsikan. Hampir setiap tahun pada musim kemarau kabut asap rutin menghiasi kota sehingga mengurangi jarak pandang. Dampak lainnya saya alami ketika tinggal di Banjarmasin, yaitu berkurangnya pasokan hasil panen seperti buah-buahan ketika musim buah karena begitu banyaknya pohon yang terbakar. Pohon-pohon yang ditanam bertahun-tahun hilang dalam sekejap karena bara api.  Lebih menyedihkan lagi ketika saya mudik menempuh jalur darat selama 30 jam dan melewati wilayah Kalimantan Tengah yang sebagian besar tanahnya terdiri dari lahan gambut. Sepanjang perjalanan beberapa kali saya menemukan area lahan bekas terbakar dan sisa pohon yang gosong kehitaman. Hal ini mengingatkan kita bahwa upaya memperbaiki hutan dan lahan ke kondisi semula bukanlah Proyek Sangkuriang sehingga kita perlu bertindak dari sekarang. Memang benar bila ada pepatah yang menyatakan “Lebih baik mencegah daripada mengobati” karena sebelum mengobati kita harus merasakan proses sakit terlebih dahulu yang pasti bukan sesuatu yang kita harapkan.

Indonesia merupakan negara dengan lahan gambut tropis terluas di dunia yang membentang lebih dari 20 juta hektar dari Sumatera hingga Papua. Gambut merupakan endapan organik yang memiliki kemampuan menyerap air dan menyimpan karbon sehingga baik bagi lingkungan. Akan tetapi, seiring bertambahnya penduduk makin banyak lahan gambut yang dialihfungsikan baik untuk pemukiman maupun sebagai lahan baru. Hal yang sangat disayangkan yaitu proses yang dilakukan tidak berwawasan lingkungan dengan cara mengeringkan gambut hingga pembakaran yang dapat menyebabkan polusi udara karena kabut asap, polusi air karena sisa abu yang mencemari sungai, bahkan perubahan struktur lahan menjadi gambut kering yang rentan terbakar pada musim kemarau. Padahal, ketika kondisi normal, lahan gambut dapat menyimpan air secara maksimal sehingga eksploitasi lahan gambut untuk kepentingan sesaat bukanlah langkah yang bijak karena hanya menciptakan lahan kritis yang mudah terbakar.

Semakin luasnya lahan kritis serta potensi dampak negatifnya menjadikan restorasi atau pengembalian fungsi lahan merupakan suatu prioritas. Selain mengembalikan keseimbangan ekologis hutan dari pemeliharaan air, sumber cadangan karbon dan juga pemelihara keanekaragaman hayati, hal ini juga berperan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan berbagai sumber daya yang dapat digunakan secara berkesinambungan. Upaya restorasi yang diperkenalkan Badan Restorasi Gambut antara lain rewetting (pembasahan gambut), revegetasi (penanaman ulang), dan revitalisasi (restorasi sumber mata pencaharian).Banyak masyarakat memandang sebelah mata terhadap lahan gambut karena dianggap miskin unsur hara, padahal lahan yang dikelola baik akan menjadi support system yang kuat untuk mendukung kehidupan diatasnya. Dengan adanya restorasi gambut, lahan menjadi lembab dan dapat kembali ditanami oleh masyarakat lokal. Bahkan di Pontianak, beberapa petani dapat memfungsikannya untuk menanam sayuran dengan teknik pertanian organik. Tanaman yang dapat dipilih juga cukup beragam namun disarankan agar tidak mengganggu siklus air seperti jelutung, ramin, gaharu, dan meranti, serta tanaman bernilai ekonomi seperti kopi, nanas, dan kelapa. Di beberapa wilayah bahkan lahan gambut bisa diberdayakan untuk menanam bawang merah. Gambut juga menjadi habitat bagi ekosistem sungai dan rawa seperti ikan, udang dan kepiting yang merupakan sumber pangan. Manfaat lainnya yaitu dapat pula digunakan untuk membuat PLTU berbahan dasar lahan gambut sehingga dapat menjawab kebutuhan energi yang semakin meningkat.

Restorasi Gambut juga berperan penting bagi kestabilan ekosistem dan lingkungan, terutama dalam menjaga kestabilan iklim karena menyimpan sepertiga karbon dunia. Di Indonesia sendiri diperkirakan karbon yang disimpan mencapai 22,5-43,5 gigaton. Ekosistem gambut yang dijaga dengan baik juga menghindarkan masyarakat dari bencana alam seperti kebakaran hutan dan lahan yang sangat merugikan serta bisa mencegah banjir karena tekstur gambut yang seperti spons dapat  menyimpan air hingga 13 kali bobotnya. Restorasi berperan untuk menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan, agar kekayaan alam dan tanah yang subur dapat tetap dinikmati oleh generasi mendatang.

Dengan adanya berbagai dampak positif yang diberikan bagi masyarakat dan lingkungan, restorasi gambut bukan hanya merupakan prioritas bagi pemerintah, tapi juga kita masyarakat yang tinggal di dalamnya. Langkah baik sudah dilakukan pemerintah dengan membentuk Badan Restorasi Gambut dan sekarang adalah saat yang tepat untuk bertindak. Hadirnya portal Pantau Gambut juga memudahkan kita berpartisipasi dalam turut mendukung generasi berikutnya. Langkah kita dapat dimulai dari hal terkecil seperti menjadi lebih peka memantau lingkungan dan berani bersuara terhadap tindakan yang merusak ekosistem gambut sehingga anak cucu kita dapat tinggal di lingkungan yang mendukung kelangsungan hidup.

Jadi, sudah siapkah kamu ambil bagian sebagai Pahlawan Gambut? Beranikah kamu ikut berkontribusi bagi kelangsungan generasi? Tunggu apa lagi, segera cari tahu lebih lanjut pantaugambut.id!