Menilik gambut di desa Teluk Empening

Firdaus JARI Indonesia Borneo Barat

Artikel ini awalnya dipublikasikan di Jariborneo.org

“Kebakaran yang melalap sekitar 200 hektar lahan gambut milik masyarakat tahun 2015 lalu. Membuat desa Teluk Empening kabut bukan kepalang. Tanaman jahe, jagung, nanas dan padi hampir tuai panen. Tapi, api sudah bakar harapan masyarakat. Kini kami melalui pemerintah desa bersama masyarakat mulai membangun kembali.” Ungkap Badron, Seketaris Desa Teluk Empening

Tahun 2015 lalu adalah tahun dimana kebakaran lahan gambut merambah desa Teluk Empening. Trauma melanda warga desa, bagaimana tidak, masyarakat paska kebakaran mulai enggan kembali mencangkul tanah. Hasil pertanian yang tinggal menghitung hari untuk panen, kini hanya sisa semak belukar yang tak lagi terawat. “Sampai kini masyarakat tak lagi menanam jahe, nanas dan padi di lahan bekas tebakar. Masyarakat menanam di belakang rumah atau lahan ladang mereka yang ada di desa seberang. Mereka trauma kalau mau menanam di lahan bekas tebakar kemarin,” tambah Badron ketika saya berkunjung kerumahnya kemarin. (26/09/2017)

Lahan yang bekas tebakar kemarin, kini menjadi lahan kosong yang tak tegarap oleh masyarakat. Melalui pemerintah desa (Pemdes) dan hasil musyawarah desa tahun lalu. Pemdes mulai benahi pelebaran kanal dan pengaturan sekat kanal serta membuat sekat bakar di batas kepemilikan lahan masyarakat.

“Semua inisiasi dilakukan agar kejadian yang sama tak lagi terjadi. Memperpanjang kanal sepanjang 2,6 kilometer dan sepanjang kanal kita beri sekat kanal untuk mengatur agar jika kemarau air di hulunya tidak habis. Serta membangun sekat bakar yang ada di lahan masyakat agar jika terjadi kebakaran, sekat ini yang memotong agar tak merambah ke lahan lainnya.” Papar Badron lagi.

Pembangunan kanal, sekat kanal dan sekat bakar ini sudah dimulai sejak 2016 melalui program Desa Tanggap Bencana dan dimasukkan kedalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Desa (RPJMDes) dan di implementasi melalui Rencana Kerja Pembangunan Desa (RKPDes). Hingga rampung pada tahun 2017 ini. Pembangunan sekat bakar ini dianggarkan melalui Dana Desa (DD) sedangkan sekat kanal adalah bantuan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kubu Raya. Menariknya, sekat bakar ini yang menyerupai parit kecil dengan galian 1×1 meter, dibangun sekaligus menjadi tata batas bagi kepemilikan lahan masyarakat yang ada di gambut tersebut. Guna untuk meminimalisir kebakaran yang merambah ke lahan masyarakat sekitarnya.

Dilema Hidup Di Lahan Gambut

Bukan hanya soal kebakaran yang melanda jika kemarau mulai datang atau trauma atas penanaman kembali lahan bekar tebakar. Terkadang perselisihan antar masyarakat pun kerap terjadi. “Ada masalah baru lagi ketika kebakaran melanda, terkadang masyarakat yang membuka lahan dengan membakar mulai merembet ke lahan masyarakat disebelahnya karena faktor angin.” Ujar Arpandi, Kepala Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) desa Teluk Empening.

Masyarakat yang membuka lahan baru dengan membakar, terkadang hanya fokus pada api yang ada disekelilingnya. Hingga tidak tahu kalau api mudah membakar gambut yang kering walau yang sedikit yang ditebarkan oleh angin.

“Jika membuka lahan ketika angin sedang kuat ini menjadi kendala yang serius. Sebab, lahan gambut yang kering mudah diterbangkan oleh angin. Dan jika lahan sebelah terkena, masyakat bisa saling menyalahkan walau hanya terjadi kisruh kecil, tetapi ini tak boleh dibiarkan terlalu berlarut,” tambah Arpandi.

Sekat bakar yang dibuat sepanjang batas lahan masyarakat tak mampu membendung kebakaran kecil jika sudah terbawa angin. Walaupun masyakat sudah dihimbau untuk tidak membakar minimal diwaktu angin kuat.

“Masyarakat dan kita semua sudah paham soal kebakaran di gambut ini. Tapi opsi membakar ini juga menguntungkan, selain tanah bekas tebakar lebih mudah digarap dan bisa mendapat tanah bakar untuk pupuk tambahan masyarakat,” ujar Salam, Kasi Kemasyarakatan di Pemdes.

Pemdes tergolong aktif dalam memberikan beberapa masukan dan pelatihan dari kabupaten atau provinsi terkait dengan pemahaman masyakat yang tinggal diatas lahan gambut. Walaupun terkadang dilema juga terkadang bertani diatas gambut. Walaupun masalah mereka tetap ada pada lahan kosong yang banyak belum digarap.

“Saya bersama rekan-rekan di desa selalu waspada jika ada kebakaran. Yang memang kita khawatirkan adalah lahan gambut yang masih kosong, bingung mau dikelola seperti apa dan bagimana. Ini juga sulit untuk terus diawasi. Kalau lahan sudah digarap oleh pemilik lahan, lebih mudah, mereka juga sekaligus menjadi pengawas di lahannya,” timpal Salam lagi.

Tahun ini, desa Teluk Empening tak lagi alami kebakaran seperti tahun 2015 lalu. Karena dengan adanya sekat kanal dan sekat bakar, kebakaran yang kecil dengan mudah diatasi oleh masyarakat melalui Satuan Tugas Pemadam Kebakaran Desa (Satgas Pemadam Kebakaran).

Gambut Juga Tarik Banyak Pengunjung Dari Luar

Bulan lalu, masyarakat desa Teluk Empening diramaikan kedatangan surveyor dari Australia bersama dengan Tim Badan Informasi Geospasial (BIG), Darmanto, Achmad Tohari dan Abdul Hasim. Mereka yang datang berombongan ini berkunjung untuk mengecek kedalam gambut yang ada di desa Teluk Empening dan desa Teluk Bayur. ”Saya ikut dalam mengecek kedalam gambut bersama Tim. Kita sampai pada perusahaan sawit, PT. BPG yang berada di batas desa Teluk Empening dan Teluk Bayur.” Ungkap Badron ketika mengenang kedatangan Tim BIG kemarin.

Salam, Kasi Kemasyarakatan juga mengikuti sepanjang perjalanan Tim bersama dengan M. Firdaus, Kepala Desa Teluk Empening. Kedalaman gambut ini cukup menarik perhatian mereka. Karena banyak lokasi yang didatangi bervariasi juga titi kedalamannya. “Lahan bekas terbakar kemarin yang kini menjadi lahan kosong, rata-rata hanya capai 4-5 meter, berbeda dengan lahan gambut yang ada diatas sawit PT. BPG, rata-rata 12 meter,” ucap Salam.

Tak hanya dari BIG, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kubu Raya juga hadir, Erie Gus. Tetapi peneliti gambut dari Universitas Tanjungpura Pontianak juga hadir, M. Nuriman dan Randi A. Chandra. Informasi yang saya terima dari beberapa masyarakat dan kepala desa, mereka berkunjung selain untuk meneliti gambut, bahan mereka ini juga akan diikut lombakan di acara internasional tentang gambut nanti.

LOKASI

Teluk Empening, Terentang, Kubu Raya Regency, West Kalimantan, Indonesia