Lahan gambut menyusut, lahan gambut tersudut

Bernadetta Triutami Kushendarti Jakarta

Dilansir dari tulisan Bernadetta Triutami Kushendarti, juara favorit Kompetisi Menulis Pantau Gambut

Jika kita mendengar kata “gambut” apa yang pertama kali terlintas dalam pikiran kita? Ya, Kebakaran Hutan dan Lahan. Kita tentu masih ingat peristiwa kabut asap di Riau yang terjadi pada tahun 2014. Peristiwa yang menyebabkan puluhan orang terserang penyakit pernafasan akut. Indonesia merupakan negara keempat terluas dalam memiliki lahan gambut di dunia, seluas 17-20 juta hektar. Nyatanya, selama ini lahan gambut di Indonesia belum terkelola dengan baik tanpa ada perhatian dari pemerintah.

Apa sebenarnya lahan gambut itu? Manfaat apa yang bisa kita dapatkan?

Berdasarkan pantaugambut.id, gambut adalah hamparan yang terbentuk dari sisa-sisa pohon, rerumputan, lumut, dan jasad hewan yang membusuk. Timbunan tersebut menumpuk selama ribuan tahun hingga membentuk endapan yang tebal. Gambut murni tersusun dari unsur karbon (C) sama dengan batu bara. Namun demikian, gambut merupakan bahan yang mudah terbakar sehingga menjadi media yang sempurna bagi api. Tak heran sering terjadi kebakaran di lahan gambut baik karena faktor alam ataupun ulah manusia. Gambut yang terbakar melepaskan emisi karbon yang besar sehingga dikhawatirkan akan berdampak pada perubahan iklim lokal hingga global

Gambut mempunyai peran yang sangat penting dalam daur karbon karena gambut menyimpan sumber karbon. Hanya saja sekarang terjadi perubahan pada lahan gambut yang disebabkan pembakaran lahan oleh manusia. Hal ini menyebabkan pelepasan GRK sebagai sumber emisi gas rumah kaca meningkat berlipat-lipat dalam hitungan jam, terutama pada saat musim kemarau panjang (El Nino). Perhatian pemerintah terhadap konservasi atau pengelolaan lahan gambut di Indonesia yang berdampak pada perubahan iklim masih sangat kurang, bahkan sering terabaikan. Hasil riset NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) mengatakan pada bulan Juni 2015, suhu bumi meningkat sebesar 1,26 derajat celcius, melebihi suhu yang tercatat di tahun 2012. Di Indonesia, kenaikan suhu sejak tahun 1990 dilaporkan mencapai 0,3 derajat celcius. Contoh nyata adalah menipisnya lapisan es yang menutupi puncak Pegunungan Jaya Wijaya di Papua dari sebelumnya mencapai 20km2 menjadi 2km2. Oleh sebab itu, kita sepatutnya menjaga lahan atau hutan gambut untuk kehidupan dimasa depan karena banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dari lahan gambut.

Lahan gambut merupakan sumber keanekaragaman hayati dan plasma nutfah yang sangat beragam baik flora ataupun fauna.  Masyarakat bisa memanfaatkan lahan gambut yang menghasilkan bahan papan, seperti meranti, belangiran, bambu, mahang, dan balam, sedangkan bahan sandang dan pangan seperti padi, jagung, sagu, sayuran, dan kulit kayu. Tak hanya itu, beberapa jenis tanaman tahunan dan buah-buahan eksotik yang jarang kita temukan banyak kita temukan di lahan gambut, seperti manga besar (Garcinia sp), srikaya besar (Anona, sp), dan durian berdaging merah (Durio sp). Banyak petani yang sudah memulai menanam kelapa, kopi, karet, dan kakao di lahan gambut. Seharusnya pemerintah melihat dengan jeli bahwa lahan gambut bisa dimanfaatkan seperti lahan pertanian pada umumnya yang dapat mendukung perekonomian masyarakat sekitar. Hal ini juga dapat menyukseskan program swasembada pangan yang digalakkan pemerintah karena kita tahu bahwa pengalih fungsian lahan menjadi bangunan di Indonesia sudah masuk ke desa-desa. Tentu hal ini akan membawa dampak yang tidak baik bagi nasip petani-petani yang menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian dan perkebunan.  

Saya berpikir bahwa lahan gambut bisa menjadi salah satu solusi untuk mencegah Indonesia kekurangan pangan dan terus mengimpor bahan pangan dari luar yang notabene adalah negara kecil. Tapi pemerintah seakan acuh melihat potensi lahan gambut, mereka lebih memilih untuk menyerahkannya pada perusahaan-perusahaan kelapa sawit untuk mengelolanya yang tak jarang malah merusak ekosistem di sekitar dan turut andil dalam bencana kabut asap di Indonesia. Kemiskinan merupakan cerminan dari kondisi lingkungan lahan gambut terkait kurangnya fasilitas yang mendukung sumber daya bahan maupun sumber daya manusia sehingga masyarakat sekitar hanya mendapat ilmu bercocok tanam secara turun-temurun, dan lambat laun berubah menjadi kearifan lokal penduduk sekitar.

Selain untuk sector pertanian, lahan gambut juga dapat dimanfaatkan untuk Peternakan. Hutan rawa gambut dikenal sebagai tempat hidup berbagai hewan liar. Awalnya, hewan ini dibiarkan hidup secar bebas dan diburu secara terbatas untuk kebutuhan sehari-hari, contohnya biawak, burung, ular, babi. Akan tetapi masyarakat mulai menyadari potensi yang ada sehingga mereka mulai mengembangkannya sebagai sumber ekonomi, misal masyarakat di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan biasa memelihara sapi yang hidup di rawa-rawa dengan pakan yang tersedia di hutan.

Ada beberapa hewan yang diternakan di rawa, contohnya :

  1. Itik Alabio
    Itik Alabio merupakn jenis petelur, tetapi dagingnya juga banyak dikonsumsi dan merupakan makanan khas rawa lebak. Di Kalimantan Selatan, populasi itik albio cukup besar sekitar 2.5 juta, itik alabio juga merupakan jenis itik petelur unggulan.                       
  2. Kerbau Rawa
    Kerbau Rawa sudah lama dikenal sebagai hewan khas di rawa genangan . Di Kalimanatan Selatan populasinya mencapai 15.000 ekor, Kalimantan Timur 2000 ekor, dan Sumatera Selatan 1000 ekor. Pemeliharaannya sangat sederhana, hanya dibuatkan kandang-kalang di atas rawa.

Saya mengharapkan bahwa potensi-potensi diatas dapat lebih dikembangkan oleh masyarakat sekitar, tentunya dengan dukungan dari pemerintah. Dengan menjaga dan melakukan konservasi pada lahan gambut, kita juga turut serta menjaga keanekaragaman hayati di Inonesia. Selama iniIndonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan plasma nutfah dan beragam flora fauna yang dimiliki. Lantas jika semua itu musnah, hilang tak terawat, apa yang bisa kita banggakan? Apa kita bangga dengan puluhan hektar kebun kelapa sawit? Apa kita bangga hutan-hutan berganti menjadi gedung bertingkat dan perumahan? Saya sebagai generasi muda tidak ingin melihat Indonesia yang hijau berubah menjadi negeri yang tak ramah bagi penduduknya, negeri yang tak ramah bagi hewan-hewan. Peraturan hanya tinggal peraturan jika tanpa tindakan. Kita mulai dari diri kita sendiri, sadarkan masyarakat Indonesia pentingnya menjaga lahan gambut, salah satunya dengan gerakan #Pantau Gambut .

Semoga opini saya ini dapat menggugah hati kita untuk berhenti merusak lahan gambut hanya untuk keserakahan semu, keserakahan yang hanya merusak bangsa ini. Salam Pantau Gambut Indonesia !!

Daftar pustaka dapat dilihat pada tautan asal