Indonesia merawat bumi: Pentingnya restorasi gambut guna menjaga keseimbangan antar makhluk hidup dan lingkungannya

Andita Meilyana Jakarta

Dilansir dari tulisan Andita Meilyana, juara favorit Kompetisi Menulis Pantau Gambut

Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman, baik dilihat dari sumber daya alam maupun dari segi wilayahnya. Sumber daya alam ini berasal dari darat, laut, maupun udara, yang berupa flora, fauna, air, mineral, tanah, dan lain-lain. Sedangkan, wilayah yang dimaksud adalah ekosistem yang terbentuk di alam yang dipengaruhi oleh variasi iklim di Indonesia. Ekosistem dan sumber daya alam ini merupakan modal dasar yang perlu dilindungi dan dilestarikan secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat guna tercapainya kesejahteraan dan tujuan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

Adapun salah satu ekosistem penting di Indonesia, yaitu lahan rawa gambut yang cukup luas diantara negara tropis lainnya, yaitu sekitar 21 juta ha, yang tersebar terutama di Sumatera (35%), Kalimantan (32%), Sulawesi (3%), dan Papua (30%) (BB Litbang SDLP, 2008 dalam Agus dan Subiksa, 2008). Lahan rawa gambut merupakan lahan yang terdiri dari tanah-tanah yang jenuh air, tersusun dari bahan tanah organik berupa sisa-sisa tanaman dan jaringan tanaman yang telah melapuk dengan ketebalan lebih dari 50 cm (Pengembangan Inovasi Pertanian 1(2), 2008). Lahan gambut ini memiliki sifat dan ciri kimia tanah, yaitu kemasaman tanah yang cenderung bergantung pada tebal gambut, kapasitas tukar kation yang mencirikan kesuburan tanah, kandungan C-organik yang dipengaruhi oleh tingkat dekomposisinya, dan kadar abu yang menentukan tingkat mineral yang dikandungnya. Lahan rawa gambut ini telah ditetapkan sebagai kawasan lindung bergambut. Perlindungan terhadap kawasan gambut dilakukan untuk mengendalikan hidrologi wilayah.

Akan tetapi, sejak beberapa tahun lalu, semakin terbatasnya lahan untuk mendukung ketahanan pangan dan memenuhi kebutuhan areal perkebunan dalam rangka pengembangan bioenergi mendorong pemerintah untuk memanfaatkan lahan rawa gambut tersebut (Pengembangan Inovasi Pertanian 1(2), 2008). Padahal, secara teoretis, gambut dapat menyerap karbon sebesar 75% sehingga tidak dapat dijadikan lahan perkebunan, tidak dapat dibakar ataupun dikeringkan. Pemanfaatan tersebut menyebabkan beberapa permasalahan terkait dengan pertahanan produktivitas lahan, yaitu:

  1. tingkat kesuburan tanah menjadi rendah, yaitu pH tanah masam dan kandungan unsur hara NPK relatif rendah;
  2. penurunan permukaan tanah yang besar setelah didrainase;
  3. daya tahan (bearing capacity) menjadi rendah sehingga pohon-pohon dapat tumbang, dan
  4. sifat mengkerut tak balik yang dapat menurunkan daya retensi air dan membuatnya peka terhadap erosi. Pemanfaatan yang tidak cermat dan tidak sesuai dengan karateristik lahan ini dapat merusak keseimbangan ekologis wilayah. Selain itu, pada akhir tahun 2015 juga terjadi kebakaran yang meliputi hutan dan lahan dengan 52% dari luas area yang terbakar merupakan lahan gambut. Hal tersebut menimbulkan banyak kerugian, seperti punahnya keanekaragaman hayati dan emisi gas rumah kaca yang meningkat sehingga menyebabkan perubahan iklim di Indonesia (WRI Indonesia, 2017).

Berdasarkan hal tersebut, pada tahun 2016 pemerintah telah melakukan upaya restorasi terhadap lahan gambut di Indonesia guna memperhatikan ancaman kerusakan pada lahan gambut. Beberapa diantaranya adalah melakukan perencanaan, sosialiasi, uji coba, dan juga memperkuat kelembagaan dengan membentuk Tim Restorasi Gambut Daerah (TRGD) yakni di Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Riau, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah (Setyorini, 2017). Upaya restorasi ini melibatkan pemerintah daerah, akademisi, lembaga swadaya masyarakat (LSM) lokal, pihak swasta, dan juga masyarakat guna memperkuat kinerja restorasi lahan gambut tersebut.

Upaya yang telah dilakukan pemerintah, yaitu dengan menggunakan mikroba untuk menghilangkan sersah dan menaikkan pH tanah. Upaya ini meningkatkan hasil padi di Kalimantan Barat sebagai salah satu daerah uji coba. Kemudian, pemerintah juga melakukan pengawasan untuk mencegah terjadinya kebakaran lahan gambut di Indonesia dengan memanfaatkan teknologi sensor yang dikembangkan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang bekerja sama dengan Jepang. Teknologi sensor yang diberi nama Morpalaga ini mampu memantau ketinggian muka air di lahan gambut dan kelembabannya yang berguna untuk menjaga air pada lahan gambut agar tidak kering dan terbakar. Dengan upaya-upaya tersebut, diharapkan restorasi gambut berjalan dengan lancar agar dapat menyelamatkan karbon yang sangat mempengaruhi upaya pengendalian perubahan iklim di Indonesia.

Restorasi lahan gambut penting untuk dilakukan karena lahan ini memiliki fungsi hidrologi dan lingkungan bagi kehidupan dan penghidupan manusia serta makhluk hidup lainnya. Lahan gambut dapat melindungi sumber-sumber air, seperti memelihara daur hidrologi, mengatur dan menstabilkan aliran permukaan dan menjaga air tanah, hingga berperan sebagai penyangga dalam berbagai keadaan yang ekstrim, seperti banjir. Selain itu, lahan gambut sangat berpotensi dalam memelihara berbagai ekosistem lainnya, memberikan kontribusi terhadap kestabilan iklim, menyerap dan menguraikan zat-zat pencemar, menyimpan dan mendaur zat hara, serta memelihara struktur tanah dan kelembaban unsur hara untuk melindungi kemampuan produktivitas tanah.

Lahan gambut juga memberikan berbagai manfaat bagi masyarakat, yaitu sebagai sumber daya hayati yang sangat kaya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas persediaan makanan dan obat-obatan serta menyediakan sistem penunjang bagi potensi dan kebermanfaatannya. Seluruh masyarakat yang bergantung pada sumber daya lahan tersebut memiliki tanggung jawab untuk menjaga kelestarian keanekaragaman hayati, keteraturan iklim, udara bersih, serta konservasi air dan tanah. Penyelarasan kebutuhan makhluk hidup dan lingkungannya tidak dapat hanya dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kerjasama dari seluruh pihak yang berkontribusi dalam restorasi lahan gambut tersebut. Masyarakat dapat membantu program restorasi pemerintah guna melindungi lahan gambut yang memiliki potensi yang berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat Indonesia sendiri.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa semangat restorasi gambut guna pelestarian lingkungan yang diterapkan pemerintah melalui beberapa kegiatan, seperti penggunaan mikroba dan pemanfaatan teknologi sensor “Morpalaga” dapat dijadikan sebagai salah satu acuan dalam melindungi dan melestarikan lahan gambut di Indonesia. Kemudian, masyarakat juga dapat turut serta dalam restorasi gambut sehingga rasa peduli terhadap gambut dapat membatin dalam diri masyarakat itu sendiri. Penulis berharap dengan adanya kajian lebih lanjut mengenai restorasi gambut ini, pemerintah dapat mewujudkan program perlindungan dan pelestarian makhluk hidup serta lingkungan guna mewujudkan Indonesia yang lestari, lestari akan sumber daya alam maupun lingkungannya.

Daftar pustaka dapat dilihat pada tautan asal.