Hutan gambut Indonesia sebagai penyeimbang siklus karbon dunia

Rikki Herno Saragih Jakarta

Dilansir dari tulisan Rikki Herno Saragih, juara pertama Kompetisi Menulis Pantau Gambut

Kita sepantasnya bangga terhadap kekayaan Indonesia, bahwa saat ini Indonesia merupakan negara dengan luasan hutan gambut tropika terbesar di dunia. Hutan gambut mempunyai peran penting sebagai penyangga kehidupan misalnya menjadi sumber air, sumber pangan, penjaga kekayaan keanekaragaman hayati, dan juga sebagai penyeimbang siklus karbon dunia yang akan mengendalikan iklim global. Lahan gambut merupakan sequester karbon yang mengurangi efek gas rumah kaca di atmosfer. Hal ini dapat dibuktikan dengan luasan lahan gambut yang hanya meliputi 3% dari luas daratan di dunia, namun menyimpan 550 gigaton karbon atau setara dengan 30% karbon tanah, 75% dari seluruh karbon atmosfer, setara dengan dua kali simpanan karbon semua hutan di seluruh dunia (Joosten, 2007).

Meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap hutan, maka keberadaan hutan gambut cenderung dinilai dari sisi ekonomi dibandingkan dari nilai dan fungsi ekologinya. Saat ini, kondisi hutan gambut Indonesia sedang mengalami tekanan yang semakin berat, terutama oleh kegiatan-kegiatan manusia seperti eksploitasi hutan dan pembukaan lahan secara intensif dan luas, untuk memenuhi keperluan industri maupun bagi peningkatan produksi pangan masyarakat, misalnya pengalihan fungsi lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit. Menyadari pentingnya peran dan fungsi hutan gambut, maka pengelolaan hutan gambut sangat perlu dilakukan secara tepat dan terpadu.

Siklus karbon memiliki peranan yang sangat penting bagi keberlanjutan makhluk hidup yang ada di dunia. Dengan adanya karbon, makhluk hidup mendapatkan bahan makanan organik dalam bentuk karbohidrat. Namun, karbon tersebut dapat menjadi malapetaka terhadap makhluk hidup itu sendiri jika konsentrasi karbon sangat tinggi. Apabila tidak terjadi kesetimbangan antara karbon yang dilepaskan (input) ke atmosfer dan karbon yang diserap dalam siklus ini (output) maka akan terjadi penumpukan karbon pada salah satu komponen reservoir dalam siklus karbon tersebut.

Reservoir yang paling mempengaruhi terhadap suhu lingkungan, bahkan suhu dunia adalah atmosfer karena reservoir tersebut yang akan melingkupi seluruh makhluk dan menjadi tujuan setiap gas yang menguap (dalam hal ini terutama gas karbondioksida). Ketika konsentrasi gas karbondioksida sangat tinggi, maka kandungan Gas Rumah Kaca akan bertambah. Seperti yang kita ketahui bahwa gas rumah kaca dibentuk oleh gas CO2, CH4, N2O, O3, PFCs, HFCs, SF6 dan CFC. Karbondioksida menjadi penyumbang terbesar untuk gas rumah kaca.

Apakah itu gas rumah kaca? Gas Rumah Kaca bukanlah gas yang diakibatkan karena bangunan-bangunan kaca yang saat ini marak dijadikan sebagai infrastruktur kota. Gas Rumah Kaca sebenarnya sangat penting bagi manusia karena merupakan gas berperan melindungi bumi dari pancaran sinar matahari, sehingga suhu bumi tetap stabil baik pada waktu siang maupun malam hari. Tanpa keberadaan gas rumah kaca ini, bumi akan membeku dan mungkin kehidupan tidak akan berjalan. Namun, seiring dengan meningkatnya konsentrasi gas-gas yang terkandung di dalamnya terutama karbondioksida, Gas Rumah Kaca tersebut akan menahan pantulan balik sinar matahari dari bumi yang seharusnya ditransmisikan ke atmosfer. Apabila hal ini terus menerus terjadi, maka energi dari sinar matahar akan terjebak di dalam bumi dan mengakibatkan peningkatan suhu bumi secara perlahan.

Hutan gambut sebagai agen penyerap dan penambat karbon, dapat mengurangi kandungan karbon di atmosfer. Masalah ketidakseimbangan karbon di dunia terletak pada jumlah serapan karbon yang semakin berkurang, akibat lahan hijau di dunia yang semakin berkurang (deforestrasi hutan), maupun karena kualitas hutan dalam menyerap karbon berkurang akibat terjadinya degradasi hutan. Hutan gambut dapat menambat dan menyerap 5 kali jumlah karbon total yang umumnya diserap hutan pada umumnya. Hal ini sangat berpotensi untuk memperbesar porsi penyerapan karbon dunia. Penyerapan karbon di atmosfer oleh hutan gambut tidak hanya dilakukan oleh tumbuhan yang hidup di atas lahan gambut, melainkan diserap oleh tanah dan tumbuhan yang telah mati. Hal ini menjadikan peluang bagi hutan gambut untuk menyerap karbon di lingkungan sebanyak-banyaknya, sehingga akan mengurangi pemanasan global.

Solusi pada hutan gambut agar tetap menjadi penyeimbang siklus karbon dunia dan meningkatkan kualitas penyerapan karbon terbagi menjadi dua macam yaitu dengan cara adaptasi dan dengan cara mitigasi. Mitigasi bertujuan untuk mencegah, menghentikan, menurunkan pelepasan emisi gas buangan atau gas-gas rumah kaca di atmosfer. Cara mitigasi yang dapat dilakukan adalah dengan upaya konservasi terhadap hutan gambut. Melalui konservasi hutan gambut, kelestarian hutan gambut akan tetap terjaga, sehingga secara alami jumlah karbon yang dapat ditambat hutan gambut akan meningkat seiring dengan penambahan biomassa akibat tumbuhan yang belum terdekomposisi secara sempurna. Upaya konservasi yang bisa kita lakukan terhadap hutan gambut adalah melakukan perlindungan terhadap kawasan lahan gambut berupa penanaman tumbuhan yang dapat menambat CO2 dan toleran di area dan sekitar hutan gambut misalnya tumbuhan sagu (Metroxylon sagu) dan karet (Hevea brasiliensis). Upaya konservasi lain terhadap hutan gambut adalah pemeliharaan hutan tropis di sekitar area hutan gambut serta pemanfaatan ekosistem lahan gambut dengan bijaksana secara berkolaborasi.

Cara kedua dalam mempertahankan hutan gambut agar tetap menjadi penyeimbang siklus karbon dunia dan meningkatkan kualitas penyerapan karbon adalah dengan adaptasi. Adaptasi bertujuan sebagai penyesuaian kita terhadap perubahan lingkungan yang telah terjadi. Adapun upaya adaptasi yang bisa kita lakukan terhadap perubahan lingkungan yang terjadi pada hutan gambut adalah dengan langkah-langkah antisipasi waktu dan tempat yang akan terjadi, kemudian memperkirakan apa, bagaimana, dan seberapa besar dampaknya, serta bagaimana mengurangi risiko dan menanggulangi dampak itu secara dini dan efektif sehingga tidak mengakibatkan bencana atau risiko kerugian lebih besar.

Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan interpretasi fungsi kawasan hutan gambut dan sosialisasi serta penyuluhan terhadap masyarakat luas, melakukan identifikasi manfaat berkelanjutan hutan gambut, melakukan akses bagi pemanfaatan berkelanjutan bagi masyarakat sekitar, bekerja sama dengan pemerintah Indonesia untuk mengubah kebijakan mengenai alih fungsi lahan gambut agar kualitas gambut tetap terjaga, menekan perusahaan perkebunan kelapa sawit agar tidak membuka lahan dari hutan gambut dan menekan jumlah penebangan hutan, dan meningkatkan ekonomi masyarakat baik dengan pembukaan lapangan pekerjaan yang baru atau pencerdasan kewirausahaan guna mengurangi aktivitas pemanfaatan hutan dan penjualan hasil hutan ilegal.

Daftar pustaka dapat dilihat pada tautan asal.

LOKASI

Jakarta, Indonesia