Hari-hari di lahan gambut

Dwi Nanto Jambi

Dilansir dari Tulisan Dwi Nanto, Juara III Kompetisi Menulis Pantau Gambut

“Jauh sebelum Pemerintah membuat peraturan tentang gambut, masyarakat sudah memiliki cara dan nilai-nilai kearifan untuk mengelola gambut secara lestari. Dengan tidak membuka gambut dalam, kami juga mengatur dimana wilayah yang baik untuk tanaman yang kami tanam, gambut basah yang kami sebut perumoan untuk kami tanami padi dan lahan kering yang kami sebut pematang kami tanami tanaman keras, karena kami tidak mengatur gambut untuk kami, tapi gambut yang mengatur kami. Dan itu berbeda dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit, mereka lebih senang mengatur gambut untuk keuntungan mereka.” -Ibu Santi, Masyarakat Desa Sungai Bungur

Namanya Santi, tapi masyarakat Desa Sungai Bungur Kecamatan Kumpeh Kabupaten Muaro Jambi lebih menyukai dengan memanggilnya “Wa Tong”. Dia berusia lebih kurang 50 tahun, memiliki tubuh yang relatif hampir sama dengan rata-rata masyarakat Jambi lainnya.

Wa Tong merupakan salah satu penduduk asli di Desa Sungai Bungur, terlahir dari keturunan suku Melayu. Dalam tata cara hidup, Wa Tong masih berpegang teguh pada nilai-nilai leluhur yang pernah diajarkan kepadanya. Baik itu dalam tata cara memperlakukan sesama manusia maupun terhadap alam disekitarnya.

Desa Sungai Bungur adalah bagian dari satu kesatuan wilayah gambut yang tidak terputus, baik secara administrasi maupun teri-tori di Provinsi Jambi. Di tahun 2015 yang lalu, wilayah Desa Sungai Bungur menjadi salah satu wilayah yang tidak luput dari amukan kebakaran lahan gambut. Seolah-olah ingin menjadi satu miniatur dari wilayah lainnya yang terkena dampak dari kebakaran gambut, Desa Sungai Bungur juga memberikan fakta, bahwa bukan hanya kerugian materil namun kerugian moril juga menjadi dampak ikutannya.

Anak-anak dipaksa untuk tidak sekolah dengan satu alasan untuk menghindari paparan asap. Banyak baik dari orang tua maupun anak itu sendiri yang tidak mengerti dengan alasan ini. Karena situasi yang mereka alami saat itu hampir semua sama, baik di ruangan kelas maupun di rumah, mereka tidak bisa melepaskan diri dari jebakan asap.

Asap akibat terbakarnya lahan gambut diwilayah Desa Sungai Bungur dan sekitarnya, juga menghentikan secara paksa aktivitas normal para petani. Bahkan berdampak pada menurunnya produksi komoditas buah duku dan durian yang sudah sejak lama menjadi komoditas primadona seantero Jambi.

Wa Tong tinggal bersama 1 orang anak perempuan yang masih duduk dibangku sekolah menengah atas dan suaminya yang saat ini tidak lagi mampu bekerja untuk mencari nafkah keluarga. Sebenarnya Wa Tong memiliki 5 orang anak, namun 4 diantaranya sudah menikah dan memutuskan untuk tidak tinggal satu rumah dengan Wa Tong. Suaminya sudah hampir 7 tahun mengidap sakit pernapasan, paru-parunya tidak lagi berfungsi normal, sehingga pergerakannya sangat dibatasi untuk menghindari hal buruk pada kesehatannya.

Dalam segi ekonomi, Wa Tong masih memiliki nasib baik, kebun dan sawah yang didapat dari “membuka rimbo” (satu kebudayaan membuka lahan secara tradisional) dengan luas tidak lebih 400m, masih dimiliki dan masih bisa dikelolanya. Karena nasib sial yang saat ini rata-rata menimpa penduduk Desa Sungai Bungur, adalah nasib tidak memiliki tanah lagi. Tanah-tanah mereka telah berpindah tangan, dari akibat jeratan ekonomi dan paksaan oknum preman desa untuk menjualnya kepada perusahaan perkebunan kelapa sawit.

Tidak sedikit dari penduduk Desa Sungai Bungur yang tidak memiliki tanah akibat dijual kepada perusahaan kelapa sawit, kini harus rela menjadi buruh-buruh kasar diperkebunan. Laki-laki sampai perempuan mengalami nasib yang sama, menjadi buruh perkebunan ditanahnya sendiri. Perlakuan kasar dari mandor sampai jam kerja yang tidak manusiawi, sudah menjadi resiko yang tidak bisa dihindari. Banyak dari kalangan buruh perempuan yang memiliki anak kecil, harus rela meninggalkan anak-anaknya dirumah dan sebagai penggantinya adalah upah yang cukup untuk memenuhi makan satu hari mereka.

Walaupun sang suami tidak bisa membantu untuk mengurus lahan yang dimilikinya, wa Tong tidak serta merta berserah pada nasib dan menelantarkan lahan yang mereka miliki untuk tidak ditanami. Dengan  ketekunannya, wa Tong menanami padi dan tanaman sayur mayur juga terus berprofesi menjadi dukun beranak didesanya. Dengan menggunakan perahu kecil, wa Tong sendiri menyisiri sungai kumpeh yang membelah desanya, menuju lahan sawah miliknya yang saat itu sedang siap untuk dipanen.

Lahan gambut yang dikelola masyarakat Desa Sungai Bungur, dibagi menjadi dua kriteria. Kriteria pertama adalah lahan gambut basah yang diistilahkan masyarakat dengan nama “perumoan” yang dikhususkan sebagai wilayah untuk tanaman padi. Kriteria kedua adalah lahan gambut kering, sedikit berpermukaan tinggi, diistilahkan masyarakat dengan nama “pematang” yang dikhususkan untuk tanaman keras, seperti durian, cokelat, duku dan pinang.

Semua lahan gambut yang dikelola masyarakat Desa Sungai Bungur untuk pertanian, sudah dipastikan berada diwilayah gambut dangkal, dengan ukuran tidak lebih 0,5m. Hal tersebut diperkuat dari peraturan bersama di Desa Sungai Bungur dalam awal “membuka rimbo” dilarang membuka gambut dalam. Dalam kepercayaan masyarakat Desa Sungai Bungur, gambut dalam yang tidak boleh dibuka dengan kedalaman lebih dari 0,5m, ditandai dengan adanya tumbuhan pakis dan akar kekait.

Sedikit-demi sedikit perahu yang ditumpangi wa Tong diarahkan ke bibir sungai dan tidak jauh lahan milik wa Tong bisa terlihat. Selain tanaman padi yang nampak menguning, beberapa tanaman sayur seperti cabai, tomat, kacang panjang, juga bersamaan siap untuk dipanen. Dalam proses memanen hasil tanaman, Desa Sungai Bungur masih memiliki tradisi yang masih cukup kental, tradisi tersebut dinamakan “beselang”. Beselang adalah tradisi pekerjaan memanen secara bersama-sama dan sukarela dilahan orang yang mememiliki jasa sosial didalam desa seperti dukun beranak dan guru mengaji. Dengan memanfaatkan tradisi itu, wa Tong banyak merasa terbantu, walaupun tidak di dampingi sang suami.

Selain memiliki tradisi memanen hasil tanaman secara bersama-sama dan sukarela, Desa Sungai Bungur juga memiliki satu tradisi dalam mempersiapkan dan membuka lahan tanam radisi tersebut biasa dinamakan masyarakat Desa Sungai Bungur dengan sebutan “merun”.

Kegiatan “merun” dimaksudkan bisa untuk membuka lahan atau mempersiapkan masa tanam kembali setelah panen dilakukan, dengan beberapa tahap kegiatan yang dilakukan. Tahap pertama adalah membersihkan semak dan tumbuhan kecil, kegiatan ini disebut oleh masyarakat dengan istilah “melaras”. Setelah melaras dilakukan, tahap berikutnya adalah menebang pohon yang berukuran lebih dari 30 cm besarnya dengan menggunakan kapak.

Setelah pohon-pohon yang berukuran lebih dari 30cm keatas dilakukan, proses berikutnya adalah memotong atau mencincang kayu hasil tebangan menjadi kecil-kecil. Proses memotong atau mencincang ini disebut dengan istilah “ mereda”. Setelah proses mereda selesai dilakukan, tahap berikutnya adalah membatasi antara pemilik lainnya dengan cara membersihkan semak dan lainnya. Istilah ditahap ini dikenal dengan “melarat”, atau proses yang dilakukan agar pada saat pembakaran hasil pemotongan tangkai pohon tidak menjalar ke lahan pemilik lainnya.

Setelah proses melarat dipastikan sudah selesai, tahap berikutnya baru melakukan proses pembakaran. Teknik pembakaran dengan cara mengumpulkan hasil pemotongan dan pencincangan, kemudian ditumpuk-tumpuk, baru kemudian dilakukan pembakaran.

Proses pembakaran biasanya dilakukan pada pagi hari, dengan melihat cuaca terang dan angin tidak bertiup kencang. Karena jika cuaca mendung dan akan turun hujan, proses pembakaran tidak maksimal, juga ketika angin bertiup kencang, dikawatirkan api akan melompat dan menjalar ke lahan pemilik lain. Dalam proses pembakaran, masyarakat juga biasanya akan menunggu api untuk memastikan api tidak menjalar, biasanya proses menunggu waktunya dari pagi hingga sore, itu sesuai dengan proses waktu pembakaran pagi hingga sore juga.

Setelah pembakaran selesai, sisa-sisa kayu dan ranting yang belum terbakar sepenuhnya akan dikumpulkan menjadi satu tumpukan kembali. Proses inilah yang dinamakan oleh masyarakat dengan istilah “memerun”. Waktu yang dibutuhkan dalam proses melaras sampai memerun, kurang lebih mencapai 60 hari, untuk lahan 1 hektar dan biasanya pematang yang sudah diperun baru bisa ditanami setelah 5 hari setelahnya.

Untuk melakukan “merun” dalam mempersiapkan masa tanam kembali, kini wa Tong dan juga masyarakat lainnya sangat disulitkan dan hampir tidak bisa dilakukan karena berhadapan dengan hukum. Tradisi mempersiapkan lahan dengan cara “merun” telah menjadi satu bentuk aktivitas melawan hukum sejak disahkannya Peraturan Daerah Jambi No 2 Tahun 2016 dan Peraturan Gubernur Jambi No 31 Tahun 2016 tentang pencegahan dan pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan.

Kini wa Tong dan beberapa masyarakat lain yang berada di Desa Sungai Bungur dan sekitarnya, terpaksa menelantarkan lahan-lahan yang mereka miliki. Walaupun sudah masuk masa tanam, namun karena kegiatan “merun” tidak bisa dilakukan, praktis kegiatan tanampun tidak ada.

Ada seorang masyarakat di desa tetangga Desa Sungai Bungur pernah memaksakan diri untuk melakukan “merun”, namun dalam hitungan jam, dia sudah menjadi target pencarian aparat hukum dan lahan yang dimilikinya saat itu juga disegel oleh aparat hukum.

Kini wa Tong hanya bisa memanfaatkan sungai kumpeh untuk menangkap ikan, sebagai pengganti untuk menutupi kebutuhan makannya, karena sampai saat ini, lahan gambut yang biasa dikelolanya terlantar begitu saja. Peraturam Pemerintah dan peristiwa banjir, telah melengkapi nasib wa Tong untuk semakin menjauh dari lahan gambut yang telah lama menjadi tanah kehidupannya.